Thank you for submitting your feedback!

Your feedback is very important to us.
Someone should respond to you within 24 hours of receipt of your feedback.

Berita

[Liputan] Universitas Prasetiya Mulya membuka prodi S1 Hospitality Business

Pebruari, 2017

Prasetiya Mulya, yang hampir selama 35 tahun mengelola pendidikan bisnis dan manajemen di Indonesia, membuka program studi (prodi) Bisnis Pariwisata (Hospitality Business), Kamis (9/2/2017) ini.

Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Djisman S.Simandjuntak meresmikan pembukaan prodi dengan seminar bertajuk Tourism Higher Education in Facing Global Business Challenges (Pendidikan Tinggi Pariwisata Menghadapi Tantangan Bisnis Global) di Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak. Salah satu pembicara seminar hadir Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif di era Kabinet Indonesia Bersatu II.

“Saya sangat menghargai pertumbuhan industri pariwisata yang semakin besar jumlahhya di dunia. Layanan leisure ini memang dulu lebih ke arah hedonis sifatnya, bahkan cenderung ke sensual leisure. Namun ada gerakan besar sekarang ini yang menjadikan pariwisata sebagai kultur,” jelas Djisman.

Mantan ekonom senior CSIS ini berpendapat, pariwisata yang sekarang ini berkembang dan turut andil dalam perkembangan hidup manusia perlu terus didalami. “Inilah yang disebut eudaimonia (dari bahasa Latin “spirit kebaikan”) services. Layanan eudemonia ini semakin besar sekarang ini, yang dengan begitu membutuhkan banyak SDM andal di bidangnya,” katanya seraya menambahkan berbagai persoalan pariwisata di Indonesia yang membutuhkan pendalaman ilmu khusus dan menyeluruh, mengingat beberapa pertanyaan di dekade silam tentang keilmuan pariwisata yang cakupannya begitu luas, dan tidak spesifik.

Pendapat Djisman dipertegas I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata yang juga hadir sebagai pembicara. “Iya benar, (pariwisata) ini adalah ilmu. Dan kita punya banyak tugas untuk mengembangkan  ilmu ini,” ungkap Pitana seraya menambahkan selama ini masih jarang pekerja profesional pariwisata yang berlatar belakang pendidikan tinggi spesifik pariwisata.

Bidang turisme memang baru diakui sebagai ilmu yang perlu diajarkan di Indonesia di tahun 2008. “Bandingkan di negara-negara maju yang sudah lama menggeluti ilmu ini dan membangun industri pariwisata mereka yang maju pesat,” jelas Agus W. Soehadi, Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya menambahkan pernyataan Djisman.

Tren Pariwisata Dunia

Dekan universitas yang awalnya sekolah bisnis yang didirikan oleh para pengusaha  terkemuka Indonesia ini memaparkan kurikulum yang akan dikembangkan di prodi Pariwisata Prasetiya Mulya, yang diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pariwisata Tanah Air. Khususnya menjawab tantangan global perkembangan teknologi yang semakin kompleks memengaruhi sistem pengelolaan pariwisata saat ini.

Menurutnya, tren pariwisata di dunia diwarnai empat fenomena penting. “Pertama, komoditisasi lebih besar, yang semakin menantang beberapa pengelola pariwisata karena ruang kegiatan yang lebih luas.

Kedua, Ekonomi Berbagi (sharing economy) yang di beberapa tempat memporak-porandakan sistem pemasaran pariwisata konvensional. Ketiga, kemajuan teknologi yang memacu peningkatan dan pengembangan pariwisata, antara lain pemanfaatan Big Data Analysis untuk mendalami perilaku konsumen pariwisata.

Dan keempat, generasi milenial yang merupakan segmentasi pasar yang menarik,” jelas Agus.

 

Kurikulum 3 Pilar

Menurut Agus, Prasetiya Mulya tak akan lepas dari ciri khas institusi yang telah lama bergelut dalam pendidikan bisnis di Indonesia dalam mendesain kurikulum prodi baru ini.

“Kita ingin mengambil posisi dengan menawarkan 3 pilar dasar dalam kurikulum program studi pariwisata. Pertama, Learning Pathways yang akan menempatkan mahasiswa pada studi teori-teori dasar kepariwisataan yang terintegrasi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Kedua, Practical and management experience yang membekali mahasiswa dengan praktik-praktik nyata yang harus dialami langsung. Dan ketiga, Entrepreneural Learning yang mengasah mahasiswa untuk menjadi pengusaha-pengusaha pariwisata yang bukan hanya andal pada level-level dasar ilmu dan praktik industri pariwisata, tetapi juga menguasai kemampuan-kemampuan strategis manajerial,” kata Agus.

Menanggapi pembukaan prodi pariwisata Prasetiya Mulya, dengan mencermati, perkembangan pariwisata dunia dan di Tanah Air, pada sesi akhir Mari Elka Pangestu menyimpulkan pentingnya pendidikan pariwisata.

“Ilmu pariwisata itu penting, agar ada perencanaan destinasi, demand dan market analysis, simply dan persiapan kapasitas daya ukur, dan kesiapan SDM yang mendahului semua, “ kata Mari. *(HRM)

Comments

Captcha