Cerita Sukses

Uniqueness that makes them
stand out from the crowd


Di dunia blogger, sosok imut ini populer sebagai salah satu member Indonesia Beauty Blogger. Ia bahkan tercatat sebagai salah satu blogger wanita Indonesia paling berpengaruh di dunia. Pasalnya, ulasan dan tip-tip seputar dunia kecantikan yang diberikannya menginspirasi banyak perempuan.

Dari ranah maya itu pula, ia kemudian memantapkan langkahnya sebagai beautypreneur. Bersenjatakan blog yang ia rancang dengan apik, ciri khas dandanannya yang mengarah ke bold,colorful dan fun mampu membius banyak orang untuk menghampirinya. Termasuk, para selebritas seperti personel Cherrybelle, Raisa, personel Soulvibe, Ira Batti dan Andira. Mereka memercayakan polesan make-up pada tangan dinginnya. Juga, klien korporat seperti Majalah Elle, Majalah Clara, Majalah Esquire, La Mariage, Aquila, Minimal, Cotton Ink, Petite Cupcakes, Argyle and Oxford, Bukopin, Berryfood, Burger King serta Eskulin.

Memakai nama Lizzie Parra, yang diambil dari potongan nama panjangnya, Elizabeth Christina Parameswari, kelahiran Jakarta 2 Februari 1987 ini memilih jalur karier sebagai profesional make-up artist. Bahkan, ia rela meninggalkan zona nyamannya di perusahaan multinasional, L’Oreal Paris. Baginya, pekerjaan yang dimotori passion akan mampu mendulang berkah berkali-kali lipat. Terbukti, Lizzie Parra dibanjiri proyek fashion & beauty di majalah, fashion and commercial campaignwedding, sampai menjadi make-up artist. Blognya, Make-Up Artist by Lizzie Parra, juga punya banyak pengunjung.

Putri pasangan Robertus Harry Eddyarso dan Patricia Pujiwati ini sejatinya menyukai dunia fashionsaat beranjak dewasa. Tepatnya, saat ia memasuki dunia kampus. “Saya pikir, kayaknya gueharus dandan nih. Ya, sudah coba-coba saja bareng teman-teman cewek make up make up-an,” cerita pehobi nonton dan selancar di dunia maya yang akrab disapa Ichil ini. Bahkan, ia kerap mengadakan small beauty class di kampus yang ternyata diminati banyak orang. Padahal, ia mengaku waktu kecil ia sangat tomboy. “Nggak suka dandan, pakai rok atau sepatu cewek. Sukanya lari-larian, kejar-kejaran sama anak laki-laki,” katanya.

Kebutuhan untuk dandan akhirnya justru mengantarkannya ke dunia fashion kecantikan di L’Oreal. Ia sempat memegang merek YSL untuk beauty-nya. “Minat saya ke beauty makin tinggi. Saya merasa enjoy walaupun harus kerja tujuh hari dalam seminggu,” ungkapnya. Selama dua tahun bekerja akhirnya ia memutuskan resign pada April 2011. Bujukan dari sang bos dan iming-iming gaji serta beasiswa sekolah ke Hong Kong tak menyurutkan tekadnya. “Kalau saya tidak keluar, saya tidak akan tahu apa yang terjadi ke depan. Kalaupun saya gagal, masih banyak pintu yang mau terima saya,” ujar Ichil yang pada 4 Mei lalu dipersunting Efrat Agung Musidy.

Diakuinya, awalnya tidak mudah membangun diri sebagai self employed. “Tiga bulan pertama rasanya mau nangis. Itu berat banget, karena kan yang namanya uang pesangon habis semua untuk bikin portofolio, beli make-upbranding segala macam,” ujarnya. Selama tiga bulan pertama, ia tak hanya mengasah kemampuan make up, tetapi juga mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari Prasetiya Mulya Business School.

Menurutnya, kunci freelance make-up artist ada dua: koneksi dan portofolio. “Kalau kita punya portofolio tetapi tidak punya koneksi, sama saja bohong. Orang tidak ada yang tahu kerja kita apa. Tetapi kalau kita punya koneksi, sementara portofolio tidak ada, orang juga bakal tidak percaya. Jadi, dua item itu yang saya kerjakan selama 3-4 bulan pertama,” paparnya. Pengalaman bekerja di L’Oreal yang mengenalkannya kepada banyak orang diakuinya sangat membantunya membangun kariernya saat ini.

Seiring perjalanan waktu, Lizzie Parra yang menyasar segmen B+ mulai banyak dilirik. Ia tidak mau mematok target terlalu tinggi atau terlalu rendah. “Kalau terlalu tinggi, saya malulah sama senior. Gue anak bawang, tetapi kasih harga tinggi, gue siapa? Saya juga tidak mau set harga terlalu bawah karena saya harus set branding juga,” ungkapnya. Karena itu, ia kerap memilih order yang datang. Pekerjaan yang menurutnya agak mengganggu branding biasanya tidak dipublikasikan. Atau sebaliknya, pekerjaan yang dinilainya bisa menaikkan branding ya dipublikasikan. “Saya pemilih dalam hal ini,” ujarnya.

Target bidikannya adalah remaja ke dewasa yang menginginkan make-up flawless dan tidak terlalu menor. “Gaya make-up saya banyak terpengaruh dari style Barat yang biasanya tidak terlalu heavystrong eyes dan lebih mengutamakan complexion yang flawless. Kalaupun ingin agak bereksperimen, pasti tetap saya tonjolkan unsur beauty-nya. Biasanya saya lebih ke beauty or fashion spread dan wedding makeup,” paparnya.

Dengan patokan harga untuk make-up biasa, misalnya prom, ulang tahun, datang ke pernikahan, dan lamaran kisaran Rp 650 ribu — sudah dengan tatanan rambut — dan wedding Rp 1,5 juta ke atas, dalam sebulan ia bisa mengantongi Rp 15-20 juta. “Itu kalau saya sedang biasa-biasa saja. Kalau saya sedang rajin, sempat Rp 60 juta,” katanya. Harga untuk artis pun diakuinya sama. “Yang beda itu misalnya harga untuk komersial, katalog, TVC. Itu yang menentukan dari banyaknya orang yang harus saya make up, berapa lama saya harus tinggal, dan sesulit apa make up-nya. Jadi, harganya beda-beda kalau untuk komersial,” ungkapnya.

Untuk memasarkan jasanya, ia memilih media online. Pasalnya, selain menjadi make-up artist, ia pun aktif di dunia blogging. “It is fun to share the knowledge with everyone. Lewat website, saya yang awalnya hanya bertujuan untuk share portofolio, akhirnya sekarang meluas. Di website saya www.lizzieparra.com, saya sering share tentang produk favorit saya, ataupun sharetutorial videotentang make up. Sisanya dari Instagram dan word of mouth,” ungkap Ichil.

Bagaimana ia menyiasati persaingan? Baginya, setiap orang mempunyai preferensi masing-masing untuk make-up. “Saya lebih ke strategi untuk mempertahankan dan meng-improve kemampuan,” ujarnya.

Di matanya, karier yang ditekuninya saat ini bisa menjanjikan kalau memang benar-benar siap untuk terjun. “Sebelum saya memberanikan terjun, saya melakukan riset target, menentukanbranding dan positioning. Yang paling penting, portofolio dan koneksi. Kalau itu sudah ready, kita pasti akan lebih siap untuk enter the new beauty world,” ucapnya.

Untuk pengembangan ke depan, ia tengah ancang-ancang membuat kursus make up. “Karena memang sudah banyak yang request, cuma belum sempat-sempat,” katanya. Ia juga ingin berkembang menjadi seorang beautypreneur. “Saya ingin sekali ke depannya lebih mengeksplorbeauty ini. Selanjutnya, mungkin saya ingin memiliki beauty studio, atau ide gilanya mungkin bikinbrandI dont know. Just keep believing,” ujarnya.(*)

Source : http://swa.co.id/youngsterinc/self-employee/lizzie-parra-dari-blogger-ke-beautypreneur 

 

Lihat Wawancara


Berawal dari tugas kampus, sebagai salah satu syarat kelulusan dari Jurusan Pemasaran dan Keuangan di Prasetiya Mulya Business School, Stephen Khrisna, Ivan Ariwibowo, Yossi Permana, Oktavianus Andika, dan Aradea Respati merintis bisnis leather goods – produk fashion berbahan dasar kulit. “Waktu itu kami memilih, mau bikin bisnis roti bagel, fotografi atau leather goods. Nah pilihannya jatuh pada opsi ketiga, karena saat itu di Indonesia sedang demam denim dan barang kulit sangat cocok dipasangkan dengan denim,” tutur Ivan Ariwibowo, Chief Marketing Officer Voyej. Apalagi, mereka melihat banyak perajin di Indonesia yang mampu menciptakan produk buatan tangan yang bernilai seni tinggi.

Usaha mereka tak sia-sia. Setelah 6 bulan mencari perajin dan bahan baku, produk dengan label Voyej resmi diluncurkan pada 11 Februari 2011. Dana investasi sebesar Rp 40 juta digelontorkan untuk biaya sampling, perajin, membuat merek, toko online, dan membeli bahan baku. “Karena kulit yang kami inginkan di Indonesia kualitasnya kurang bagus, maka kami impor langsung dari Amerika Serikat,” ujar Yossi Permana, Chief Operating Officer Voyej.Sebelum memulai bisnisnya, anak-anak muda berusia 24 tahun ini lebih dulu melakukan riset ke Bandung, Garut, Yogyakarta dan Malang untuk mencari perajin yang bisa mengerjakan produk yang mereka inginkan. Tak hanya itu, mereka juga mengaku kesulitan mencari kulitvegetable tanned cowhide, yakni kulit khusus sebagai bahan utama untuk produk Voyej seperti dompet, gantungan kunci, ikat pinggang, dan gelang.

Voyej membidik konsumen pria berusia 18-30 tahun yang tergolong kelas menengah-atas. Maklum produk Voyej tergolong tidak murah. Harga sebuah dompet misalnya, dibanderol Rp 800 ribu-1,8 juta, sedangkan ikat pinggang seharga Rp 500 ribu.

Yang istimewa, karena menggunakan kulit khusus, warna dompet, gelang, ikat pinggang dan gantungan kunci dapat berubah menjadi kecokelatan atau lebih gelap bergantung pada pemakaian dan atau perawatan si pemakai. “Inilah positioning produk kami,” ujar Ivan dengan bangga.

Aradea Respati, Kepala Riset dan Pengembangan Voyej menambahkan, Voyej sendiri artinya perjalanan jauh. “Proses pembuatan satu produk saja terbilang rumit dan lama. Dan tidak hanya itu, pengguna Voyej juga akan merasakan pengalaman baru selanjutnya. Kami ingin menciptakan customerexperience,” ia menjelaskan.

Meskipun unik, pemasaran produk Voyej awalnya cukup sulit karena banyak konsumen yang belum mengerti keistimewaan produk ini. Kelima sekawan ini harus mengedukasi pasar lebih dulu agar mudah membidik konsumen yang dituju. Awalnya mereka mempromosikan produknya melalui berbagai forumonline. Namun kini, selain melalui Internet, pemasaran Voyej juga melalui konsinyasi di lima gerai di Jakarta dan Bandung, salah satunya Goods Dept di Pacific Place, Jakarta. Sekitar 50% pembeli melakukan pembelian secara online, dan 30% di antaranya bahkan berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Singapura, Australia, Kanada, Hong Kong dan Taiwan.

Dalam sebulan kelima anak muda ini mampu meraup omset rata-rata Rp 60 juta. Angka penjualan bahkan meningkat hingga 100% pada momen Ramadan, misalnya. Hanya dalam tiga bulan, bisnis kelima anak muda ini balik modal.

Arrad Fajri yang telah menggunakan dompet buatan Voyej sejak tiga bulan yang lalu, menilai produk Voyej memang unik dan memiliki ciri khas. “Ini dompet paling keren yang saya punya,” katanya. Menurutnya, desain produk Voyej sangat trendy dan keunggulannya terletak pada bahan kulit yang bisa berubah warna. “Dompet saya berubah warna dalam waktu dua bulanan. Saya senang karena dompet saya semakin keren,” ia menambahkan.

Ke depan, Voyej memang berencana melakukan ekspansi bisnis dengan membangun gerai sendiri, membangun jaringan pasar mancanegara, hingga menambah portofolio baru. Lima sekawan ini berharap, bisnis yang dijalankan sekarang dapat semakin besar dan eksis, meskipun dua pendirinya lebih memilih bekerja sebagai profesional di perusahaan.

Source:http://swa.co.id/entrepreneur/tugas-kampus-lima-sekawan-yang-jadi-duit

Lihat Wawancara


Berawal dari persahabatan, Ardia Saputra, Rafael Santani, Dirgo Darantio, Wiliam Ernest Silanoe, dan Nikki  Hartanto – kelimanya alumni  S1 Business angkatan 2010 – memilih membuka sebuah tea house dengan konsep rumah. Awalnya, usaha ini dirintis sebagai tugas akhir mereka di Prasetiya Mulya. Namun, setelah lulus mereka tetap berkomitmen untuk serius membesarkan usaha ini.

Seperti namanya, tea house ini memang memiliki konsep yang unik. Terinspirasi dari banyak tea House di Inggris, dekorasi dan interior tea house yang berada di Jalan Kertanegara, Nomor 72, Senopati, Jakarta Selatan, ini memang sangat kental nuansa Inggrisnya.

“Sebetulnya nama Bradley’s ini adalah nama orang yang sering dipakai oleh orang Inggris untuk kasta menengah atas dan kenapa kita bawa nama Bradley’s ini di Jakarta agar bisa menarik pasar dari ekspatriat Inggris. Selain itu kita mengambil semua konsep untuk tea house ini dari Inggris mulai dari interiornya sampai dengan tehnya semua kita ambil dari Inggris,” ujar Wiliam Ernest Silanoe, Marketing Director Bradley’s.

Lebih lanjut, Ernest menjelaskan bahwa yang menjadi keistimewaan di tea house ini adalah kenyamanan untuk para tamu yang datang. Hal inilah yang menjadi alasan Bradley memberikan sentuhan perabot rumah, aneka keramik,  serta  ornamen yang ceria dalam dekorasi ruangannya. Untuk menampung lebih banyak jumlah pelanggan yang memiliki kebiasaan khusus, Bradley memperbesar ruangan pada awal tahun 2015.

DSC_0309

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kita mau orang yang masuk ke sini bisa merasakan suasana seperti mereka di rumah sendiri,  lebih santai dan rileks,” tambahnya.

Selain itu,  tea house ini memiliki menu yang istimewa salah satunya adalah white tea dan untuk pelengkap minum tehnya tea house ini menyediakan makanan ringan seperti scones, muffin, ginger bread loaf, cookies, dan lainnya.

Bradley

salah satu menu di Bradley (seumber : eatandtreat.wordpress.com)

Pemasaran

Kalau kita memasukkan kata kunci “tea house jakarta” di search engine Google, maka Bradley British Tea House berada di urutan pertama pencarian. Hal ini bukan sesuatu kebetulan tetapi berkat kejelian bisnis alumni S1 Business Prasetiya Mulya ini dalam kegiatan pemasaran dengan merangkul situs pencarian kuliner dan para food  blogger.

Secara umum, target pasar tea house ini, lanjut Ernest, terbagi menjadi dua, pada weekdays adalah ibu-ibu sosialita yang sering mengadakan acara seperti arisan dengan teman-temannya dan bilaweekend target pasar kita adalah anak-anak muda. Adapun kisaran harga yang ditawarkan tea houseini berkisar Rp 35.000 sampai Rp 300.000. Selain itu terdapat paket tea time untuk   empat oranng dengan harga Rp 300.000.

“Target pasar kita itu adalah ibu-ibu sosialita yang hobinya foto, yang hobinya nongkrong tapi kita ga  menuntut kemungkinan ke anak-anak muda seumuran kita yang mereka masih mau bersosialisasi dan terbuka,” papar alumni  SMA Negeri 3 Jakarta ini.


Ernest Silanoe (2)

Ke depannya, Ernest berharap Bradley’s bisa membuka cabang dan menambah menu khas inggris lainnya agar menjadi lebih variatif, serta bisnis tea house yang dijalankan bisa diterima oleh masyarakat secara baik dan bisa dijadikan lifestyle. Ernest juga berpesan kepada para start-up business agar saat melihat peluang bisnis, kita  harus segera mengambil, dan berani keluar dari zona nyamannya.

Lihat Wawancara


Entrepreneur harus memiliki jiwa kepemimpinan. Prinsip ini selalu di pegang Bintang Cesario hingga membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang populer di kampus. “Saya iseng-iseng mengikuti kompetisi The Scholar Indonesia di tahun 2007 yang diadakan oleh Prasetiya Mulya dan Metro TV. Pada saat itu saya masih tidak tahu apa yang akan saya pelajari di sekolah bisnis.” Sebut Bintang. Lolos ke babak final kompetisi The Scholar Indonesia, Bintang memulai harinya di Prasetiya Mulya Business School. Disini, Bintang tidak saja hanya mempelajari tentang bisnis, namun juga bagaimana memperkuat jiwa kepemimpinannya.

“Saya sangat suka terlibat dalam kegiatan organisasi. Dulu, saya merupakan ketua OSIS pada saat SMP. Namun, saya tidak terlibat menjadi ketua OSIS di SMA, karena saya ingin fokus untuk mengikuti kelas akselerasi di sekolah saya,” ujar Bintang yang tentang ketertarikannya pada bidang kepemimpinan. Meskipun tidak terlibat langsung dalam organisasi di SMA, Bintang tetap mengikuti Jaringan Penelitian Siswa, dan mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea Selatan.Setelah belajar di Prasetiya Mulya, dia merasakan kurikulum PMBS sangat suportif untuk membentuk jiwa kepemimpinannya.

“Sejak mulai belajar di sini, saya harus bekerja di dalam tim, hal ini menuntut saya untuk memiliki kemampuan kerja sama yang baik. Hampir 90% tugas yang diberikan adalah kerja tim. Di semester tiga dan empat, kami di ajarkan bagaimana cara membangun sebuah bisnis. Hal ini membuat saya belajar bagaimana bekerja dengan teman saya,” ucap Bintang, yang lahir di Klaten 21 tahun yang lalu.

Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan, adalah saat Bintang di angkat menjadi CEO di pelajaran Business Creation saat semester 3. Di saat orang lain sibuk membuat bisnis makanan, Bintang dan kelompoknya memilih membuat bisins kreatif, pakaian dalam untuk wanita, yang diberi nama Biancheria Intima. Bintang menegaskan, kemampuan delegasi di dalam tim merupakan hal yang penting bagi seorang entrepreneur.

“Satu hari kita harus mampu menjalankan peran yang strategis, misalnya Chief Marketing Officer, di kesempatan lain, bias saja kita harus menjalankan peran strategis lainnya. PMBS mendorong mahasiswa untuk mampu mengambil inisiatif dalam menjalankan peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Bintang

Sebagai bukti atas kemampuan kepemimpinannya yang semakin baik, Bintang aktif dalam berbagai kegiatan kampus, contohnya menjadi Presiden Student Board. Salah satu event paling sukses yang diprakarsainya yaitu ASEAN Economic and Business Student Summit pada Maret 2010.

 

Lihat Wawancara

STORIES ARCHIVE
Elizabeth Christina Parameswari

Di dunia blogger, sosok imut ini populer sebagai salah satu member Indonesia Beauty Blogger. Ia bahkan tercatat sebagai salah satu blogger wanita Indonesia paling berpengaruh di dunia. Pasalnya, ulasan dan tip-tip seputar dunia kecantikan yang diberikannya menginspirasi banyak perempuan.

Dari ranah maya itu pula, ia kemudian memantapkan langkahnya sebagai beautypreneur. Bersenjatakan blog yang ia rancang dengan apik, ciri khas dandanannya yang mengarah ke bold,colorful dan fun mampu membius banyak orang untuk menghampirinya. Termasuk, para selebritas seperti personel Cherrybelle, Raisa, personel Soulvibe, Ira Batti dan Andira. Mereka memercayakan polesan make-up pada tangan dinginnya. Juga, klien korporat seperti Majalah Elle, Majalah Clara, Majalah Esquire, La Mariage, Aquila, Minimal, Cotton Ink, Petite Cupcakes, Argyle and Oxford, Bukopin, Berryfood, Burger King serta Eskulin.

Memakai nama Lizzie Parra, yang diambil dari potongan nama panjangnya, Elizabeth Christina Parameswari, kelahiran Jakarta 2 Februari 1987 ini memilih jalur karier sebagai profesional make-up artist. Bahkan, ia rela meninggalkan zona nyamannya di perusahaan multinasional, L’Oreal Paris. Baginya, pekerjaan yang dimotori passion akan mampu mendulang berkah berkali-kali lipat. Terbukti, Lizzie Parra dibanjiri proyek fashion & beauty di majalah, fashion and commercial campaignwedding, sampai menjadi make-up artist. Blognya, Make-Up Artist by Lizzie Parra, juga punya banyak pengunjung.

Putri pasangan Robertus Harry Eddyarso dan Patricia Pujiwati ini sejatinya menyukai dunia fashionsaat beranjak dewasa. Tepatnya, saat ia memasuki dunia kampus. “Saya pikir, kayaknya gueharus dandan nih. Ya, sudah coba-coba saja bareng teman-teman cewek make up make up-an,” cerita pehobi nonton dan selancar di dunia maya yang akrab disapa Ichil ini. Bahkan, ia kerap mengadakan small beauty class di kampus yang ternyata diminati banyak orang. Padahal, ia mengaku waktu kecil ia sangat tomboy. “Nggak suka dandan, pakai rok atau sepatu cewek. Sukanya lari-larian, kejar-kejaran sama anak laki-laki,” katanya.

Kebutuhan untuk dandan akhirnya justru mengantarkannya ke dunia fashion kecantikan di L’Oreal. Ia sempat memegang merek YSL untuk beauty-nya. “Minat saya ke beauty makin tinggi. Saya merasa enjoy walaupun harus kerja tujuh hari dalam seminggu,” ungkapnya. Selama dua tahun bekerja akhirnya ia memutuskan resign pada April 2011. Bujukan dari sang bos dan iming-iming gaji serta beasiswa sekolah ke Hong Kong tak menyurutkan tekadnya. “Kalau saya tidak keluar, saya tidak akan tahu apa yang terjadi ke depan. Kalaupun saya gagal, masih banyak pintu yang mau terima saya,” ujar Ichil yang pada 4 Mei lalu dipersunting Efrat Agung Musidy.

Diakuinya, awalnya tidak mudah membangun diri sebagai self employed. “Tiga bulan pertama rasanya mau nangis. Itu berat banget, karena kan yang namanya uang pesangon habis semua untuk bikin portofolio, beli make-upbranding segala macam,” ujarnya. Selama tiga bulan pertama, ia tak hanya mengasah kemampuan make up, tetapi juga mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari Prasetiya Mulya Business School.

Menurutnya, kunci freelance make-up artist ada dua: koneksi dan portofolio. “Kalau kita punya portofolio tetapi tidak punya koneksi, sama saja bohong. Orang tidak ada yang tahu kerja kita apa. Tetapi kalau kita punya koneksi, sementara portofolio tidak ada, orang juga bakal tidak percaya. Jadi, dua item itu yang saya kerjakan selama 3-4 bulan pertama,” paparnya. Pengalaman bekerja di L’Oreal yang mengenalkannya kepada banyak orang diakuinya sangat membantunya membangun kariernya saat ini.

Seiring perjalanan waktu, Lizzie Parra yang menyasar segmen B+ mulai banyak dilirik. Ia tidak mau mematok target terlalu tinggi atau terlalu rendah. “Kalau terlalu tinggi, saya malulah sama senior. Gue anak bawang, tetapi kasih harga tinggi, gue siapa? Saya juga tidak mau set harga terlalu bawah karena saya harus set branding juga,” ungkapnya. Karena itu, ia kerap memilih order yang datang. Pekerjaan yang menurutnya agak mengganggu branding biasanya tidak dipublikasikan. Atau sebaliknya, pekerjaan yang dinilainya bisa menaikkan branding ya dipublikasikan. “Saya pemilih dalam hal ini,” ujarnya.

Target bidikannya adalah remaja ke dewasa yang menginginkan make-up flawless dan tidak terlalu menor. “Gaya make-up saya banyak terpengaruh dari style Barat yang biasanya tidak terlalu heavystrong eyes dan lebih mengutamakan complexion yang flawless. Kalaupun ingin agak bereksperimen, pasti tetap saya tonjolkan unsur beauty-nya. Biasanya saya lebih ke beauty or fashion spread dan wedding makeup,” paparnya.

Dengan patokan harga untuk make-up biasa, misalnya prom, ulang tahun, datang ke pernikahan, dan lamaran kisaran Rp 650 ribu — sudah dengan tatanan rambut — dan wedding Rp 1,5 juta ke atas, dalam sebulan ia bisa mengantongi Rp 15-20 juta. “Itu kalau saya sedang biasa-biasa saja. Kalau saya sedang rajin, sempat Rp 60 juta,” katanya. Harga untuk artis pun diakuinya sama. “Yang beda itu misalnya harga untuk komersial, katalog, TVC. Itu yang menentukan dari banyaknya orang yang harus saya make up, berapa lama saya harus tinggal, dan sesulit apa make up-nya. Jadi, harganya beda-beda kalau untuk komersial,” ungkapnya.

Untuk memasarkan jasanya, ia memilih media online. Pasalnya, selain menjadi make-up artist, ia pun aktif di dunia blogging. “It is fun to share the knowledge with everyone. Lewat website, saya yang awalnya hanya bertujuan untuk share portofolio, akhirnya sekarang meluas. Di website saya www.lizzieparra.com, saya sering share tentang produk favorit saya, ataupun sharetutorial videotentang make up. Sisanya dari Instagram dan word of mouth,” ungkap Ichil.

Bagaimana ia menyiasati persaingan? Baginya, setiap orang mempunyai preferensi masing-masing untuk make-up. “Saya lebih ke strategi untuk mempertahankan dan meng-improve kemampuan,” ujarnya.

Di matanya, karier yang ditekuninya saat ini bisa menjanjikan kalau memang benar-benar siap untuk terjun. “Sebelum saya memberanikan terjun, saya melakukan riset target, menentukanbranding dan positioning. Yang paling penting, portofolio dan koneksi. Kalau itu sudah ready, kita pasti akan lebih siap untuk enter the new beauty world,” ucapnya.

Untuk pengembangan ke depan, ia tengah ancang-ancang membuat kursus make up. “Karena memang sudah banyak yang request, cuma belum sempat-sempat,” katanya. Ia juga ingin berkembang menjadi seorang beautypreneur. “Saya ingin sekali ke depannya lebih mengeksplorbeauty ini. Selanjutnya, mungkin saya ingin memiliki beauty studio, atau ide gilanya mungkin bikinbrandI dont know. Just keep believing,” ujarnya.(*)

Source : http://swa.co.id/youngsterinc/self-employee/lizzie-parra-dari-blogger-ke-beautypreneur 

 

VOYEJ

Berawal dari tugas kampus, sebagai salah satu syarat kelulusan dari Jurusan Pemasaran dan Keuangan di Prasetiya Mulya Business School, Stephen Khrisna, Ivan Ariwibowo, Yossi Permana, Oktavianus Andika, dan Aradea Respati merintis bisnis leather goods – produk fashion berbahan dasar kulit. “Waktu itu kami memilih, mau bikin bisnis roti bagel, fotografi atau leather goods. Nah pilihannya jatuh pada opsi ketiga, karena saat itu di Indonesia sedang demam denim dan barang kulit sangat cocok dipasangkan dengan denim,” tutur Ivan Ariwibowo, Chief Marketing Officer Voyej. Apalagi, mereka melihat banyak perajin di Indonesia yang mampu menciptakan produk buatan tangan yang bernilai seni tinggi.

Usaha mereka tak sia-sia. Setelah 6 bulan mencari perajin dan bahan baku, produk dengan label Voyej resmi diluncurkan pada 11 Februari 2011. Dana investasi sebesar Rp 40 juta digelontorkan untuk biaya sampling, perajin, membuat merek, toko online, dan membeli bahan baku. “Karena kulit yang kami inginkan di Indonesia kualitasnya kurang bagus, maka kami impor langsung dari Amerika Serikat,” ujar Yossi Permana, Chief Operating Officer Voyej.Sebelum memulai bisnisnya, anak-anak muda berusia 24 tahun ini lebih dulu melakukan riset ke Bandung, Garut, Yogyakarta dan Malang untuk mencari perajin yang bisa mengerjakan produk yang mereka inginkan. Tak hanya itu, mereka juga mengaku kesulitan mencari kulitvegetable tanned cowhide, yakni kulit khusus sebagai bahan utama untuk produk Voyej seperti dompet, gantungan kunci, ikat pinggang, dan gelang.

Voyej membidik konsumen pria berusia 18-30 tahun yang tergolong kelas menengah-atas. Maklum produk Voyej tergolong tidak murah. Harga sebuah dompet misalnya, dibanderol Rp 800 ribu-1,8 juta, sedangkan ikat pinggang seharga Rp 500 ribu.

Yang istimewa, karena menggunakan kulit khusus, warna dompet, gelang, ikat pinggang dan gantungan kunci dapat berubah menjadi kecokelatan atau lebih gelap bergantung pada pemakaian dan atau perawatan si pemakai. “Inilah positioning produk kami,” ujar Ivan dengan bangga.

Aradea Respati, Kepala Riset dan Pengembangan Voyej menambahkan, Voyej sendiri artinya perjalanan jauh. “Proses pembuatan satu produk saja terbilang rumit dan lama. Dan tidak hanya itu, pengguna Voyej juga akan merasakan pengalaman baru selanjutnya. Kami ingin menciptakan customerexperience,” ia menjelaskan.

Meskipun unik, pemasaran produk Voyej awalnya cukup sulit karena banyak konsumen yang belum mengerti keistimewaan produk ini. Kelima sekawan ini harus mengedukasi pasar lebih dulu agar mudah membidik konsumen yang dituju. Awalnya mereka mempromosikan produknya melalui berbagai forumonline. Namun kini, selain melalui Internet, pemasaran Voyej juga melalui konsinyasi di lima gerai di Jakarta dan Bandung, salah satunya Goods Dept di Pacific Place, Jakarta. Sekitar 50% pembeli melakukan pembelian secara online, dan 30% di antaranya bahkan berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Singapura, Australia, Kanada, Hong Kong dan Taiwan.

Dalam sebulan kelima anak muda ini mampu meraup omset rata-rata Rp 60 juta. Angka penjualan bahkan meningkat hingga 100% pada momen Ramadan, misalnya. Hanya dalam tiga bulan, bisnis kelima anak muda ini balik modal.

Arrad Fajri yang telah menggunakan dompet buatan Voyej sejak tiga bulan yang lalu, menilai produk Voyej memang unik dan memiliki ciri khas. “Ini dompet paling keren yang saya punya,” katanya. Menurutnya, desain produk Voyej sangat trendy dan keunggulannya terletak pada bahan kulit yang bisa berubah warna. “Dompet saya berubah warna dalam waktu dua bulanan. Saya senang karena dompet saya semakin keren,” ia menambahkan.

Ke depan, Voyej memang berencana melakukan ekspansi bisnis dengan membangun gerai sendiri, membangun jaringan pasar mancanegara, hingga menambah portofolio baru. Lima sekawan ini berharap, bisnis yang dijalankan sekarang dapat semakin besar dan eksis, meskipun dua pendirinya lebih memilih bekerja sebagai profesional di perusahaan.

Source:http://swa.co.id/entrepreneur/tugas-kampus-lima-sekawan-yang-jadi-duit

Bradley British Tea House

Berawal dari persahabatan, Ardia Saputra, Rafael Santani, Dirgo Darantio, Wiliam Ernest Silanoe, dan Nikki  Hartanto – kelimanya alumni  S1 Business angkatan 2010 – memilih membuka sebuah tea house dengan konsep rumah. Awalnya, usaha ini dirintis sebagai tugas akhir mereka di Prasetiya Mulya. Namun, setelah lulus mereka tetap berkomitmen untuk serius membesarkan usaha ini.

Seperti namanya, tea house ini memang memiliki konsep yang unik. Terinspirasi dari banyak tea House di Inggris, dekorasi dan interior tea house yang berada di Jalan Kertanegara, Nomor 72, Senopati, Jakarta Selatan, ini memang sangat kental nuansa Inggrisnya.

“Sebetulnya nama Bradley’s ini adalah nama orang yang sering dipakai oleh orang Inggris untuk kasta menengah atas dan kenapa kita bawa nama Bradley’s ini di Jakarta agar bisa menarik pasar dari ekspatriat Inggris. Selain itu kita mengambil semua konsep untuk tea house ini dari Inggris mulai dari interiornya sampai dengan tehnya semua kita ambil dari Inggris,” ujar Wiliam Ernest Silanoe, Marketing Director Bradley’s.

Lebih lanjut, Ernest menjelaskan bahwa yang menjadi keistimewaan di tea house ini adalah kenyamanan untuk para tamu yang datang. Hal inilah yang menjadi alasan Bradley memberikan sentuhan perabot rumah, aneka keramik,  serta  ornamen yang ceria dalam dekorasi ruangannya. Untuk menampung lebih banyak jumlah pelanggan yang memiliki kebiasaan khusus, Bradley memperbesar ruangan pada awal tahun 2015.

DSC_0309

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kita mau orang yang masuk ke sini bisa merasakan suasana seperti mereka di rumah sendiri,  lebih santai dan rileks,” tambahnya.

Selain itu,  tea house ini memiliki menu yang istimewa salah satunya adalah white tea dan untuk pelengkap minum tehnya tea house ini menyediakan makanan ringan seperti scones, muffin, ginger bread loaf, cookies, dan lainnya.

Bradley

salah satu menu di Bradley (seumber : eatandtreat.wordpress.com)

Pemasaran

Kalau kita memasukkan kata kunci “tea house jakarta” di search engine Google, maka Bradley British Tea House berada di urutan pertama pencarian. Hal ini bukan sesuatu kebetulan tetapi berkat kejelian bisnis alumni S1 Business Prasetiya Mulya ini dalam kegiatan pemasaran dengan merangkul situs pencarian kuliner dan para food  blogger.

Secara umum, target pasar tea house ini, lanjut Ernest, terbagi menjadi dua, pada weekdays adalah ibu-ibu sosialita yang sering mengadakan acara seperti arisan dengan teman-temannya dan bilaweekend target pasar kita adalah anak-anak muda. Adapun kisaran harga yang ditawarkan tea houseini berkisar Rp 35.000 sampai Rp 300.000. Selain itu terdapat paket tea time untuk   empat oranng dengan harga Rp 300.000.

“Target pasar kita itu adalah ibu-ibu sosialita yang hobinya foto, yang hobinya nongkrong tapi kita ga  menuntut kemungkinan ke anak-anak muda seumuran kita yang mereka masih mau bersosialisasi dan terbuka,” papar alumni  SMA Negeri 3 Jakarta ini.


Ernest Silanoe (2)

Ke depannya, Ernest berharap Bradley’s bisa membuka cabang dan menambah menu khas inggris lainnya agar menjadi lebih variatif, serta bisnis tea house yang dijalankan bisa diterima oleh masyarakat secara baik dan bisa dijadikan lifestyle. Ernest juga berpesan kepada para start-up business agar saat melihat peluang bisnis, kita  harus segera mengambil, dan berani keluar dari zona nyamannya.

Kanawa Coffee & Munch

Satu sore, kami menikmati hangatnya kopi di suatu kedai kopi yang nyaman di bilangan Jakarta Selatan..

kanawa pic

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya nikmatnya kopi yang ditawarkan, tempat ini juga memiliki interior yang unik dan nyaman, pemiliknya seakan mengerti bahwa warga Jakarta butuh kenyamanan untuk mencari inspirasi dan ngobrol dengan orang-orang terdekat. Mobil kecil dan sepeda motor Vespapun disediakan sebagai dekorasi dan untuk berfoto. Siapa sangka, kalau coffee shop ini dimiliki oleh sekelompok businessmanyang masih sangat muda, dan mereka semua ternyata adalah alumni Universitas Prasetiya Mulya.

kanawa pic 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diadaptasi dari nama pulau di NTT dimana nama tersebut memiliki value inspiring and relaxing, maka keenam alumni Universitas Prasetiya Mulya ini mengadaptasi nama Pulau Kanawa ke dalam bisnis coffee shop mereka menjadi  KANAWA Coffee & Munch dengan harapan dapat  menjadi coffee shopyang dapat memberikan inspirasi di saat weekdays dan dan tempat yang baik untuk relax disaat weekend. Dan konsep interior yang nyaman dan modern memang sejalan dengan visi  KANAWA Coffee & Munch ingin menjadi Coffee shop yang dapat membantu para customer untuk menginspirasi produkfitas, kreatifitas, dan tempat membangun koneksi mereka melalui kopi sebagai medianya.

kanawa 1

 

Jadi siapa saja sih para alumni Universitas Prasetiya Mulya dibalik Kanawa Coffee & Munch ini? They are : Hutama Haroen (s1 business 2010), Janied Andrianto (s1 business 2010), Sharfan Fega M. (s1 business 2010), Rustyan Adi Putra (s1 business 2010), Putro Satrio Nugroho (s1 business 2010), dan M. Farouq Al Ghazali (s1 marketing 2011).

kanawa

 

 

 

 

 

Salah satu founder Kanawa, Farouq Ghazali mengungkapkan bahwa keunggulan dari Kanawa dari coffee shop lainnya adalah konsep Idea Incubatornya, Namun secara produk apa yang menjadi unggulan dari KANAWA adalah biji kopi yang dipilih hanya biji kopi yang memiliki grade specialty. Selain itu KANAWA juga memiliki makanan-makanan unggulan yang kebanyakan adah kombinasi dari western dan indonesian food.

Harga minuman di Kanawa Coffee & Munch berkisar antara Rp 27ribu hingga Rp 42 ribu, dan makanan besar seharga Rp 55 rb hingga Rp 98 rb.

kanawa pic 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat ini, coffee shop yang telah memiliki 35 karyawan ini dikunjungi oleh rata-rata 5000 orang setiap bulannya, dengan jumlah pengunjung weekend lebih tinggi dibandingkan dari weekdays. Selain untuk ngopi-ngopi, pengunjung juga dapat memesan Kanawa sebagai tempat meeting dan gathering, dan Kanawapun juga membuka kelas-kelas pembuatan kopi,lho.

kanawa 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Farouq, selama setahun berdiri, perkembangan bisnis KANAWA terbilang bagus, “Kita masih di dalam track yang sesuai dengan proyeksi kita, namun hal ini tidak menjadikan kita outstanding dibandingkompetitor kompetitor lainnya” ujarnya.

kanawa 3

 

Belum pernah kesini dan penasaran pengen nyoba nikmatnya ngopi disini?

Dateng aja langsung ke Kanawa Coffee & Munch di : Jl.Suryo no 23, Senopati Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka buka setiap hari dari jam 09.00 -23.00 pada hari Senin-Kamis, pkl 09.00-24.00 pada hari Jumat dan Sabtu dan buka lebih pagi pada hari Minggu yaitu pkl 08.00-23.00.

Untuk tanya-tanya dan reservasi tempat kamu juga bisa langsung hubungi : 021-7201566 atau di 081371381595 atau email ke kanawacoffee@gmail.com.

 

Priscilla Kristadi | @indotravellers.co

Mencapai financial freedom di masa pensiun itu sudah biasa, tapi mencapai financial freedom saat usia masih 20 tahun itu baru luar biasa (dan mungkin tidak pernah terbayangkan oleh sebagian besar orang!) Namun, gadis manis yang saat ini berkuliah di jurusan Bisnis S1 Prasetiya Mulya ini sudah mewujudkannya. Priscilla Kristadi, memang bercita-cita dapat mencapai financial freedom di usia muda. Ia mengakui strateginya untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mencuri start berusaha di usia lebih muda dari yang lain. “Saat yang lain baru mulai usaha di saat kuliah atau selepas kuliah, saya sudah memulainya sejak masih di bangku SMA” ujarnya. And she is very blessed bisa mendapatkan kebebasan finansial tersebut dari bidang yang sangat dicintainya, yaitu Turisme dan Fotografi.

priscilla 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buat kamu yang  hobi traveling dan aktif di Instagram, mungkin sudah nggak asing sama akun @indotravellers.co . Nah, Priscilla adalah Co-founder dari akun ini beserta dengan iparnya. Akun yang saat ini hampir berusia dua tahun ini sekarang sudah memiliki followers lebih dari 630 ribu, lho.

Gimana ya awalnya Priscilla bisa masuk ke bisnis ini?

Priscilla dan iparnya memang pencinta traveling, dan tercetuslah ide membuat akun Instagram yang mengekspos keindahan alam Indonesia. Mereka kemudian memutuskan membuat akun IndoTravellers pada 24 Desember 2014. Awalnya, @IndoTravellers.co masih diisi foto-foto hasil sendiri atau teman-teman mereka ketika mereka sedang menjelajahi Indonesia.
Seiring bertambahnya followers (bertambah 100.000 followers asli dalam waktu tiga bulan), sebanyak 2000-3000 foto per hari di-upload dan di-tag ke @indotravellers.co dengan hashtag #indotravellers oleh pengguna Instagram lain dengan harapan foto mereka dapat di-feature oleh IndoTravellers. Tawaran bisnis pun mulai berdatangan dari beberapa local brand dan online shop melalui iklan di akun IndoTravellers.

Saat ini, @Indotraveller.co sudah memiliki client  besar seperti : Air Asia, PT .Nutrifood, Plaza Indonesia, Kaskus, Grand Nikko Hotel, Panorama Tours, Toyota, dan lainnya, dan lebih dari 500 regular clients untuk local brands dan online shop. Bahkan saat ini ia telah memiliki 5-6 orang karyawan untuk menjalankan admin dan operasional @Indotraveller.co. Usahanya kini juga telah membuahkan hasil untuk Priscilla, untuk biaya kos dan kesehariannya, ia sudah tidak meminta lagi dari orang tuanya, bahkan ia sudah sering mentraktir orang tuanya, dan tentunya traveling dengan uangnya sendiri.

 

 

priscilla 4

 

 

 

 

 

 

 

 

Priscilla mengungkapkan networking, relations dan meluangkan waktu untuk investasi agar pikiran luas dan dapat berguna untuk bisnis yang diusungnya itu sangat penting, “Investasi buat saya adah membaca buku dan menonton film berbobot” tambahnya.

Ia juga mengingatkan, awal-awal berbisnis adalah saat struggle paling berat. Namun dengan terus berusaha dan belajar pasti kita bisa survive. Itulah mengapa ia memilih jurusan Bisnis dan bukan turisme walaupun sejak dulu ia sangat ingin masuk jurusan turisme. “Saya ingin bisnis ini terus berkembang dan suatu saat dapat membangun hotel dari usaha ini” ujarnya. Ia mengakui belajar bisnis ini sangat penting dan sangat mendukung bisnis yang saat ini ia jalani.

priscilla 2

 

Oleh sebab itu ia sangat mendukung hadirnya program S1 “Tourism Business” yang akan dibuka mulai tahun 2017 nanti di Universitas Prasetiya Mulya. :”Andai sudah dibuka dari 3 tahun lalu pasti saya akan pilih jurusan ini karena sudah menggabungkan dua pengetahuan penting, yaitu turisme dan entrepreneurship” ujarnya sambil tersenyum. Akhir kata, Ia mengungkapkan opportunity dari turisme di Indonesia masih sangat besar dan kita harus bisa memanfaatkan moment yang ada sebaik mungkin.

Gimana? Tertarik ga ikutan bisnis sambil jalan-jalan? :)

Ramadhan Handyanto Jiwatama | Basisst Soulvibe & Music Producer

Walaupun kini Soulvibe telah bergabung dengan Sony Music Entertainmet Indonesia, Ramadhan Handyanto Jiwatama, Bassist dari band Soulvibe, yang juga seorang music producer, songwriter, dan juga merupakan alumni pertama S1 Prasetiya Mulya ini (alumni tahun 2005) menceritakan besarnya peran ilmu yang Ia dapat di Prasetiya Mulya dalam membangun dan mengembangkan label managementnya, Soulvibe Management.

Ditengah-tengah promosi album keempatnya yang launching tahun ini, Ramadhan Handyanto Jiwatama, bassist dari band Soulvibe yang kerap dipanggil Handy ini menyempatkan diri untuk diwawancarai oleh ceritaprasmul.

Hi Handy, ceritain sedikit dong awalnya mengembangkan management musik?

” Saya sudah main musik dari SMA saat di Al Azhar Pusat, jadi kalau ditanya nantinya mau ngapain, saya maunya ya nge-band, tapi ga cuma ngeband aja karena untuk hidup dari band ada jangka waktu baik secara eksternal maupun internal, pasti barriernya akan ada. Kalau sudah tidak bisa diatas panggung lagi dan sudah memutuskan untuk hidup di musik, makanya saya mau sekalian nyemplung. Untuk itu saya mengambil business management karena saya ingin masuk ke bisnis musik di Indonesia.  Dan karena saya juga memutuskan untuk hidup dan mengembangkan musik disini (Indonesia) maka saya memutuskan untuk kuliah di Indonesia saja. Awalnya saya sempat masuk ke kampus negeri, karena tidak sesuai passion, saya memutuskan hanya setahun saja disana dan pas banget Prasetiya Mulya membuka pendaftaran S1 yang pertama maka yaa pas saya kemudian masuk Universitas Prasetiya Mulya pada tahun 2005″ ujarnya.

 

1DSC_0256

Lalu,ada ga si manfaat ilmu dari Prasmul untuk pengembangan bisnis Management Musikmu?

“Saya bener-bener nerapin tools dari Prasmul. Setidaknya 50% kepake banget dari business management & marketing untuk label management saya. Saat ngebuild music businesspun saya masih buka buku yang saya pelajari dari prasmul sampai dengan sekarang” ujarnya.

Handy kemudian bercerita bagaimana dosen-dosen Prasetiya Mulya mendukungnya saat hendak meluncurkan album Soulvibe yang pertama. Di tengah jadwal peluncuran albumnya yang padat, tugas-tugas kuliahpun juga sedang padat-padatnya.

 Yang saya terkesan adalah feedback dan support dari dosen Prasetiya Mulya saat saya sedang fokus membagi waktu antara kuliah dan meluncurkan album Soulvibe yang pertama.  Untuk meyakinkan para dosenpun saya sempat memberikan CD –CD saya kepada para dosen dan tidak diduga mereka malah mendukung saya saat meluncurkan album Soulvibe” imbuhnya.  Sampai saat tugas akhir, saya disetujui untuk membuat skripsi dengan magang di Soulvibe Management, dan alhamdulillah saya mendapatkan nilai A+” tambahnya lagi.

Menurut Handy, bagaimana peran kemajuan teknologi dan digital untuk perkembangan musik saat ini dan perkembangan musik kalian pada khususnya?

“Walaupun secara pemasaran menguntungkan, tapi dari segi sales, kemajuan teknologi dan digital masih merugikan. Saat ini kemajuan kemajuan teknologi dan digital sangat membantu dalam pemasaran lagu, sehingga kita tidak perlu bergantung dengan siapa-siapa, hanya bergantung pada teknologi untuk pemasaran lagu,seperti social media yang sudah menjadi tools utama untuk promosi, untuk positioning secara business membantu tapi untuk sales memang masih perlu strategi” ujarnya menutup pembicaraan.

Band Soulvibe, saat ini tengah meluncurkan album keempat mereka dan tetap  menghadirkan sentuhan musik late 80’s and early 90’s yang memang menjadi blueprint musik mereka. Dalam album ini, untuk pertama kalinya mereka menghadirkan lagu berbahasa Inggris  lewat Fire to The Floor karya musikus asal Swedia. Mereka juga berkolaborasi dengan Iwa K. dalam lagu Malam yang menjadi pengobat rindu pada suara khas rapper tahun ’90-an itu.

soulvibe instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber foto : instagram @Soulvibe

Sukses terus untuk Handy dan Soulvibe!

Bintang Cesario

Entrepreneur harus memiliki jiwa kepemimpinan. Prinsip ini selalu di pegang Bintang Cesario hingga membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang populer di kampus. “Saya iseng-iseng mengikuti kompetisi The Scholar Indonesia di tahun 2007 yang diadakan oleh Prasetiya Mulya dan Metro TV. Pada saat itu saya masih tidak tahu apa yang akan saya pelajari di sekolah bisnis.” Sebut Bintang. Lolos ke babak final kompetisi The Scholar Indonesia, Bintang memulai harinya di Prasetiya Mulya Business School. Disini, Bintang tidak saja hanya mempelajari tentang bisnis, namun juga bagaimana memperkuat jiwa kepemimpinannya.

“Saya sangat suka terlibat dalam kegiatan organisasi. Dulu, saya merupakan ketua OSIS pada saat SMP. Namun, saya tidak terlibat menjadi ketua OSIS di SMA, karena saya ingin fokus untuk mengikuti kelas akselerasi di sekolah saya,” ujar Bintang yang tentang ketertarikannya pada bidang kepemimpinan. Meskipun tidak terlibat langsung dalam organisasi di SMA, Bintang tetap mengikuti Jaringan Penelitian Siswa, dan mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea Selatan.Setelah belajar di Prasetiya Mulya, dia merasakan kurikulum PMBS sangat suportif untuk membentuk jiwa kepemimpinannya.

“Sejak mulai belajar di sini, saya harus bekerja di dalam tim, hal ini menuntut saya untuk memiliki kemampuan kerja sama yang baik. Hampir 90% tugas yang diberikan adalah kerja tim. Di semester tiga dan empat, kami di ajarkan bagaimana cara membangun sebuah bisnis. Hal ini membuat saya belajar bagaimana bekerja dengan teman saya,” ucap Bintang, yang lahir di Klaten 21 tahun yang lalu.

Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan, adalah saat Bintang di angkat menjadi CEO di pelajaran Business Creation saat semester 3. Di saat orang lain sibuk membuat bisnis makanan, Bintang dan kelompoknya memilih membuat bisins kreatif, pakaian dalam untuk wanita, yang diberi nama Biancheria Intima. Bintang menegaskan, kemampuan delegasi di dalam tim merupakan hal yang penting bagi seorang entrepreneur.

“Satu hari kita harus mampu menjalankan peran yang strategis, misalnya Chief Marketing Officer, di kesempatan lain, bias saja kita harus menjalankan peran strategis lainnya. PMBS mendorong mahasiswa untuk mampu mengambil inisiatif dalam menjalankan peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Bintang

Sebagai bukti atas kemampuan kepemimpinannya yang semakin baik, Bintang aktif dalam berbagai kegiatan kampus, contohnya menjadi Presiden Student Board. Salah satu event paling sukses yang diprakarsainya yaitu ASEAN Economic and Business Student Summit pada Maret 2010.

 

Ekza Novtiano

Beruntung Jadi Angkatan Pertama S1 Prasetiya Mulya,” ujar Ekza. Sebagai mahasiswa angkatan pertama di S1 Marketing Prasetiya Mulya, Ekza Novtiano atau yang akrab dipanggil Ekza merasa keputusannya tepat. Salah satu alasannya karena saat itu kurikulum yang dipakai S1 Prasetiya Mulya merupakan kurikulum yang tepat guna.

Ia pun menganggap marketing sebagai sebuah idealisme. Menurutnya, marketing sangatlah menarik karena berbagai ide yang dikeluarkan dapat ‘dibeli’ oleh orang lain. ”Idealisme saya sampai akhir hayat ada di bidang marketing,” tegasnya.

Kini, pemuda kelahiran 26 tahun silam ini bekerja di perusahaan Nestle dan menjabat sebagai Brand Manager. Sebelumnya Ekza juga pernah bekerja di L’Oreal selama 4 tahun.

Berbekal perjalanan kariernya itu, ia pun tak segan berbagi pengalaman. Menurutnya jika kita masuk ke dalam dunia kerja, pasti akan menghadapi berbagai jenis masalah yang harus bisa dicari jalan keluarnya.

“Agar kita bisa keluar dari masalah, kita harus fokus dengan solusinya, bukan dengan masalahnya. Kita pun harus punya mindset bahwa masalah dapat lebih mudah diselesaikan dengan teamwork yang benar,” papar Ekza.

Ekza menambahkan, dalam menghadapi persainggan yang ada kita harus mempunyai mindset untuk selalu memberikan yang terbaik ke perusahaan, bekerja keras, dan selalu fokus dengan solusi.

“Menurut saya bekal utama agar bisa bekerja dengan baik adalah attitude, setelah itu skill dan performance akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.” Ekza menegaskan.

Ekza juga mengaku banyak sekali mendapatkan pembelajaran selama kuliah di S1 Marketing Prasetiya Mulya, termasuk yang paling terasa adalah marketing project dan study case. Pembelajarannya didukung oleh teori yang benar-benar bisa dipraktikan dalam dunia kerja.

Ia pun berpesan kepada seluruh mahasiswa S1 Marketing Prasetiya Mulya agar selalu bekerja keras, membangun koneksi atau relasi di luar, dan berusaha menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia kerja.

“Persaingan di dunia marketing sangat ketat, dan kita harus bisa memposisikan diri kita untuk menghadapinya.” Ekza menutup.