Universitas Prasetiya Mulya > News > A Message of Encouragement from Our Rector

Salam sejahtera saya kirim kepada seluruh mahasiswa S1, S2, dan S3, alumni, staf akademik dan profesional Yayasan dan Universitas Prasetiya Mulya.

Saya mengharap bahwa pesan berikut akan menemui anda dalam keadaan sehat dan tetap bersemangat tinggi meneruskan kegiatan biarpun hidup dibuat susah oleh Coronavirus-19 dan COVID-19 yang diakibatkannya. Pesan ini agak panjang. Ia tidak harus dibaca selengkapnya. Yang terpenting adalah kemauan keras kita untuk menyeberangi masa COVID-19 dengan selamat ke suatu lanskap yang sekarang masih tampak samar-samar kalau pun bukan “terra incognita”.

Kita sedang hidup dalam masa yang penuh tantangan. Penularan COVID-19 dan dampak kontraktifnya terhadap kehidupan pada umumnya dan ekonomi pada khususnya, persoalan-persoalan struktural sebelum pandemik COVID-19 seperti ketimpangan sosial, perubahan iklim, krisis elemen seperti kelangkaan air bersih, kehilangan biodiversitas dan adaptasi terhadap teknologi-teknologi baru yang berkerumum sekitar poros digital menghadapkan kita semua pada agenda yang sangat menantang yang berintikan “re-setting”.

Ambil COVID-19 sebagai contoh yang merupakan cerita ulangan dari pandemik yang sudah berkali-kali menghantam manusia, seperti Black Death (1331-1353) yang membunuh  antara 75-200 juta dan Influenza H1N1 (1918-1920) yang membunuh 17-100 juta manusia, untuk menyebut hanya dua di antara banyak pandemik yang pernah menimpa manusia. Kita belum tahu asal-usul Coronavirus-19 (Kelelawar? Tenggiling? Hewan lain?) dan bagaimana ia menjangkit kepada manusia walaupun kita menganggap ilmu genetika manusia sudah sangat maju. Di antara banjir kajian tentang COVID-19 saya ingin mengutip preprint tulisan Hazhir Rahmandad, Tse Yang Lim dan John Sterman dari MIT.

Jumlah kasus infeksi kumulatif per negara melebar luar biasa dari 4,61 sampai 3580 per 100 ribu penduduk. Jumlah yang terlapor ini mewakili puncak gunung es saja. Dalam kenyataan kasus aktual ditaksir berjumlah 10 kali dari jumlah dilaporkan. Ingat bahwa jumlah tes Coronavirus-19 kumulatif sangat berbeda dari satu negara ke yang lain, yaitu misalnya  102449 per sejuta penduduk di Jerman tetapi hanya 6324 di Indonesia (sampai dengan tanggal 11 Agustus 2020). Bangsa-bangsa sangat berbeda dalam kesiagaan menghadapi wabah virus, sesuatu yang tidak mengherankan. Tingkat Fatalitas Infeksi (IFR) juga berbeda jauh dengan rata-rata 0,65%. Itu berarti kepincangan dalam kemampuan perawatan COVID-19, lagi-lagi tidak mencengangkan. Negara juga sangat berbeda dalam prioritas politiknya. Hanya sedikit seperti Jerman dan Jepang yang meletakkan kesehatan di urutan yang sangat tinggi dalam politiknya. Banyak negara yang masih harus hidup dengan jumlah doktor medikal yang sangat rendah per 1000 penduduk, termasuk Indonesia pada 0,4, India 0,9 dibanding misalnya Jerman 4,2 dan Jepang 2,4. Densitas perawat pun per 1000 penduduk  berbeda jauh antara 2,4 untuk Indoneisa, 12,2 untuk Jepang dan 13,2 untuk Jerman.

Demikian juga halnya dengan pangsa kesehatan dalam pengeluaran rumah tangga yang sangat rendah di beberapa negara. Rumah tangga kita di Indonesia masih bergumul di kelompok bawah menurut pangsa kesehatan dalam pengeluarannya. Imunitas kolektif (herd immunity) terhadap Coronavirus-19 masih tetap jauh dari jangkauan. Signal-signal menggembirakan memang disebar dalam kaitan dengan vaksin-vaksin yang sudah memasuki pengujian Tahap III. Namun demikian waktu panjang akan masih harus berlalu sampai mayoritas besar penduduk sudah divaksinasi.

Agenda kehidupan kita dalam masa pendek ke depan, akan masih terpusat pada kesehatan umumnya dan pencegahan Coronavirus-19 dan pengobatan COVID-19 khususnya. Kita tidak boleh menunggu semata-mata mujizat sains seperti vaksin manjur yang terjangkau. Banyak yang dapat kita lakukan untuk terhindar dari pandemik yang berbentuk malapetaka. Memang keberhasilan Jerman mengendalikan penyebaran Coronavirus-19 untuk sebagian adalah berkat sistem kesehatannya yang mumpuni, termasuk dalam adopsi teknologi. Namun demikian teknologi itu bukanlah rocket science. Untuk bagian yang besar ia adalah hasil intervensi non-farma (Non-Pharmaceutical Interventions) seperti dijelaskan dalam suatu publikasi Deutsche Bank baru-baru ini. Menurut preprint artikel yang saya kutip di atas infeksi Coronavirus-19 sedunia pada  akhir Maret 2021 diproyeksikan akan terjaga pada 271 juta kalau saja tingkat testing dewasa ini dipertahankan dan  manusia patuh memakai masker, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan dan menjaga hygiene. Kalau tidak infeksi dapat meledak menjadi milyaran.

Seperti diketahui Universitas Prasetiya Mulya menutup kampus segera sesudah pelaporan kasus infeksi Coronavirus-19 di Indonesia. Kesehatan mahasiswa dan seluruh karyawan adalah prioritas tertinggi kita. Kita menyadari sangat bahwa kesehatan adalah nucleus modal manusia. Pada waktu yang sama kita bergegas menyiapkan dan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Program pembelajaran kita dapat kita teruskan. Kita tidak memandang PJJ sebagai obat mujarab. Saya pun sebagai pelajar seumur hidup masih memandang tatap muka, diskusi langsung, bahasa tubuh seperti muka yang berseri atau yang kecewa dalam kelas sebagai bagian yang hakiki dalam pembelajaran, terutama untuk ilmu-ilmu sosial.

Dalam STEM pun ada praktikum laboratorium yang harus dilaksanakan dalam kelas fisik. Karena itu Universitas Prasetiya Mulya mencari dan mencari terus bauran yang semakin baik dalam human-technology companionship dalam pembelajaran. Infrastruktur dan struktur pendukung ICT kita diuji dan ditingkatkan. Kita sedang menyiapkan “Studio” produksi yang memungkinkan fakulti berinteraksi virtual dengan baik dengan peserta pembelajaran. Pada waktu yang sama juga kita membangun “Kelas Hibrid” sebagai langkah menuju blended learning. Kita belajar dengan berbuat untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran jarak jauh, terutama daring. Dengan Kelas Hibrid mahasiswa akan bergilir mengikuti pembelajaran di ruang fisik itu sementara mahasiswa selebihnya mengikuti dengan daring. Komitmen stratejik Universitas Prasetiya Mulya adalah maju terus menuju blended learning yang serba terkoneksi local, regional dan global dan tidak kembali ke masa sebelum COVID-19.

Dengan COVID-19 pun kehidupan harus melanjut dengan proteksi yang sebaik-baiknya. Pertumbuhan negatif yang menimpa ekonomi Indonesia dalam kuartal kedua 2020 biarpun dengan keparahan yang lebih lunak daripada di banyak negara lain, harus dibalik secepat-cepatnya. Kita menyambut baik bauran kebijakan kuat dan tidak konvensional dari pemerintah melalui jalur fiskal maupun jalur moneter. Dengan prakarsa kebijakan itu amplitudo pertumbuhan negatif akan diturunkan dan durasinya diperpendek bagaimana pun kita terkadang tidak sabar menunggu tindakan-tindakan pelaksanaan yang serba cepat. Kita boleh mengejar percepatan itu, tetapi kesehatan harus didahulukan.

Pemimpin-pemimpin organisasi harus meletakkan dan menjalankan manajemen  risiko yang menimbang serentak urgensi suatu kegiatan dan eksposurnya ke penularan Coronavirus-19. Ada kegiatan dengan eksposur yang sangat tinggi tetapi juga sangat esensial. Pertumbuhannya harus dipacu seperti jasa kesehatan penanganan COVID-19. Sebaliknya kegiatan lain dengan eksposur tinggi seperti segala macam pesta patut dilarang atau ditangguhkan atau dikonversi ke dalam pesta daring.  Ada lagi kegiatan yang sangat penting dengan eksposur tinggi tetapi dapat dimitigasi seperti layanan pendidikan. Ia perlu dipulihkan segera dengan mitigasi risiko yang ketat. Penghentian persekolahan selama satu tahun dapat bermuara dalam “generasi yang hilang” dalam lanskap perubahan teknologi yang cepat. Dengan kendala-kendala mobilitas dan kontak fisik perputaran ekonomi kita selama 2020 sudah pasti turun dibanding 2019. Namun demikian, pertumbuhan negatif pun harus kita sikapi itu dengan positif dengan percaya bahwa yang sesuatu yang menurun akan menaik kalau ditahan dan didorong dengan daya terbalik. Dengan sikap seperti itu kita akan menghimpun  kembali dalam 2021 momentum yang hilang dalam 2020. Berulang-ulang hendak saya tekankan bahwa kita masing-masing dan sebagai kelompok harus menjadi agen manajemen risiko yang cerdas.

Pada akhir bulan ini kita akan menyambut mahasiswa kelas 2020 SBE dan STEM yang berjumlah hampir 1200 orang, di antaranya 92 orang penerima Beasiswa Bakti Indonesia dari banyak pelosok Indonesia. Bagi kita sebagai universitas yang didesain sebagai universitas yang berukuran sedang jumlah itu masih di bawah target, terutama dalam hal beberapa program studi STEM. Tetapi dengan kehadiran mahasiswa baru ini kultur keragaman Prasetiya Mulya akan semakin menguat. Kita tidak pernah lelah memajukan kultur keragaman. Ia adalah grandeur kehidupan dan menjadi inti cita-cita Prasetiya Mulya sejak awal keberadaannya. Bagi fakulti dan staf profesional Universitas Prasetiya Mulya kehadiran mahasiswa baru ini menambah kompleksitas pelayanan. Kita syukuri kompleksifikasi itu. Untuk itu kita memacu pengembangan SDM atau modal manusia melalui pelatihan seperti penguasaan komunikasi digital dan pelatihan SDM yang berbasis kompetensi dan pemajuan teknologi pembelajaran.

Saya menyapa juga pada kesempatan ini secara khusus mahasiswa kita yang sedang menyiapkan bagian akhir dari pembelajarannya, baik di program sarjana maupun program magister. Andalah yang paling merasakan regangan PJJ peralihan ini. Tetapi saya yakin dengan ketahanan anda. Dengan bekerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih kolaboratif  anda akan mengatasi gangguan apapun yang ditimbulkan oleh Coronavirus-19 ini. Dalam sisa waktu sebelum anda memasiki ujian akhir asah kesehatan anda, literasi anda, keahlian lunak dan keahlian keras anda dan kewirausahaan anda untuk memaksimasi fitness dalam lanskap yang baru. Bukan hanya Career Development Centre, tetapi juga bagian-bagian lain di universitas kita akan membantu anda dalam fasilitasi keberhasilan memasuki dunia pasca persekolahan.

Saudara-saudaraku mahasiswa seuniversitas yang terhormat. Saudara-saudaraku sesama angkatan kerja Yayasan dan Universitas Prasetiya Mulya. Dengan Coronavirus-19 kita sebagai insan yang belajar sedang disadarkan (humbled) tentang keterbatasan sains dan teknologi yang selalu dan memang patut kita banggakan. Terobosan-terobosan sains dan teknologi pulalah, termasuk terobosan dalam penggunaannya yang akan menjadi inti dari repertoire kita memajukan kehidupan melewati guncangan Coronavirus-19, guncangan perubahan iklim, guncangan kehilangan biodiversitas, guncangan pergeseran tektonik dalam geoekonomi dunia dan guncangan lain yang dapat terjadi tiba-tiba. Sains dan teknologi, termasuk ilmu-ilmu sosial, memang tidak menjanjikan kehidupan yang bebas turbulen atau bahkan kemunduran. Tetapi dalam perspektif panjang pertumpuan pada kemajuan sains dan teknologi adalah pilihan yang realistik dan handal bagi manusia dalam pengembaraan menuju lembaran-lembaran baru atau bahkan bab-bab baru. Sendiri- sendiri kita tidak berdaya mengarungi samudera raya perubahan itu. Tetapi bersama-sama mahasiswa, pimpinan yayasan dan universitas, alumni dan petaruh (stakeholders) yang lain dengan collaborative learning by enterprising kita akan memajukan Universitas Prasetiya Mulya menjadi miniature of global brain dan miniatur keragaman kebangsaan dan kemanusiaan yang serba terkoneksi.

Selamat beraktifitas. Selamat menaklukkan COVID-19 dengan jaya. Selamat merayakan hari Proklamasi ke-75 Republik Indonesia yang kita cintai.


Cilandak Jakarta, BSD Tangerang 13 Agustus 2020

Djisman Simandjuntak

Rektor

Butuh Bantuan? Chat kami