PRASETIYA MULYA PUBLISHING

Prasetiya Mulya Publishing > Category Artikel > Cara Menulis Abstrak Karya Ilmiah Antirevisi
Cara menulis abstrak karya ilmiah antirevisi

Dalam penulisan karya ilmiah, abstrak adalah ringkasan singkat yang menggambarkan inti dari karya tulis ilmiah.

Bagi pembaca, abstrak berfungsi sebagai potret informasi mengenai isi dari karya ilmiah yang berguna untuk menilai cepat, apakah karya tersebut relevan dengan topik atau penelitian yang sedang dilakukan atau tidak.

Menulis abstrak memiliki tantangannya tersendiri. Penulis perlu memahami apa itu abstrak dan bagaimana memproses seluruh isi tulisan dalam abstrak agar terhindar dari revisi.

Apa Saja Unsur yang Perlu Diperhatikan dalam Abstrak?

Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan ketika menulis abstrak. Berpedoman pada unsur-unsur tersebut akan membantu penulis dalam menulis abstrak yang baik.

1. Jumlah Kata

Perhatikan jumlah kata maksimal dalam penulisan abstrak. Di Indonesia, jumlah kata dalam abstrak terdiri dari 100 hingga 150 kata. Ketentuan ini memang tidak bersifat mutlak sama di setiap perguruan tinggi ataupun jurnal ilmiah. Namun, jika tidak ingin diminta merevisi, penulis sebaiknya mematuhi aturan tersebut.

2. Jarak Antarbaris

Jarak antarbaris menjadi unsur lainnya yang perlu diperhatikan ketika menulis abstrak. Spasi antarbaris dalam abstrak umumnya menggunakan spasi tunggal (single spacing). 

Tujuannya untuk memadatkan teks agar dapat mencakup abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu halaman.

3. Penulisan Bahasa Asing

Muatan bahasa asing yang terdapat dalam abstrak harus ditulis dalam bentuk cetak miring (italic). Penulisan bahasa asing dengan gaya cetak miring ini akan membantu menyoroti istilah-istilah penting dan memudahkan pembaca membedakannya.

4. Jumlah Paragraf

Terdapat tiga paragraf dalam isi abstrak. Paragraf pertama berisi judul penelitian, rumusan masalah, latar belakang, dan tujuan penelitian.

Paragraf kedua berisi metode penelitian, teknik analisis data, dan landasan teori yang digunakan. Paragraf ketiga berisi hasil atau kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan.

5. Bahasa

Gunakan bahasa ibu dan bahasa global dalam menulis abstrak. Di Indonesia, bahasa ibu adalah bahasa Indonesia sedangkan bahasa global yang biasa digunakan adalah bahasa Inggris maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

6. Kata Kunci

Penting untuk menyertakan beberapa kata kunci (3-7 kata) yang relevan dengan penelitian di bagian akhir abstrak. Kata kunci membantu pembaca menemukan abstrak dengan lebih mudah ketika melakukan pencarian di basis data atau jurnal.

7. Penulisan Singkat, Padat, dan Jelas

Salah satu kunci utama dalam penulisan abstrak adalah mengutip poin-poin penting secara singkat, padat, dan jelas. Gunakan kalimat yang tepat dan menggambarkan inti dari penelitian tanpa perlu bertele-tele. Poin-poin dalam setiap paragraf haruslah terangkum dengan baik dan tidak mengurangi kualitas dari abstrak yang dibuat.

 

Tips Menulis Abstrak Antirevisi

Tentu setiap penulis berharap artikelnya, termasuk abstrak, hanya memerlukan sedikit revisi, bahkan tidak perlu jika bisa. Nah, beberapa tips menulis abstrak berikut ini dapat membantu untuk menghindarkan abstrak dari revisi nantinya.

1. Tulis Abstrak di Sesi Terakhir Karya Ilmiah

Jangan menggabungkan proses penulisan abstrak secara bersamaan dengan penulisan isi penelitian! Hal ini dikarenakan, abstrak adalah ringkasan dari karya ilmiah tersebut. 

Abstrak yang baik harus mencakup seluruh esensi dari makalah atau penelitian berdasarkan data dan fakta yang ada di dalamnya. Jika ditulis secara bersamaan atau lebih dahulu, besar kemungkinan abstrak tidak mencakup seluruh esensi atau malah memuat informasi yang belum pasti dari hasil penelitian. 

2. Melakukan Tinjauan Ketentuan

Sebelum mulai menulis abstrak, pastikan untuk memahami instruksi atau ketentuan yang diminta pihak institusi penerbit karya ilmiah. 

Abstrak dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti penulisan artikel jurnal atau karya ilmiah akhir. Setiap tujuan, mungkin memiliki aturan dan instruksi yang berbeda-beda.

Tulislah abstrak sesuai dengan instruksi yang telah ditetapkan. Perhatikan jumlah karakter, paragraf, jarak spasi, dan aturan lain yang diminta oleh instansi atau penerbit yang dituju.

Setiap lembaga atau jurnal memiliki standar yang berbeda sehingga penting untuk mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan.

3. Menulis Berdasarkan Target Pembaca

Hal penting lainnya sebelum menulis abstrak adalah mempertimbangkan siapa target pembaca artikel atau karya ilmiah yang akan diterbitkan. 

Abstrak yang baik harus ditulis dengan bahasa sederhana, tetapi memiliki muatan ilmiah. Saat membaca abstrak pertama kali, pembaca harus dapat dengan mudah memahami inti dari permasalahan yang dibahas. 

Perhatikan juga penggunaan bahasa yang sesuai dengan target pembaca. Jika abstrak ditujukan untuk kalangan akademisi, silakan menggunakan istilah dan diksi yang mungkin cukup spesifik dalam lingkup akademik yang sesuai. Jika ditujukan untuk masyarakat umum, gunakan istilah dan diksi yang lebih umum.

4. Kuasai Macam-Macam Abstrak

Abstrak memiliki beberapa jenis. Pertama, abstrak deskriptif yang ditulis berdasarkan tujuan dan maksud dari penelitian. Abstrak deskriptif memiliki panjang sekitar 100 hingga 200 kata.

Kedua, abstrak informatif yang tulisannya lebih ringkas dibandingkan abstrak deskriptif. Abstrak informatif berisi ringkasan umum tentang penelitian yang sedang dilakukan. Panjangnya bisa mencapai satu paragraf hingga satu halaman.

Ketiga, abstrak kritis yang jarang digunakan dan hanya cocok untuk situasi tertentu. Jenis abstrak ini lebih fokus pada analisis dan kritik terhadap penelitian yang telah dilakukan, termasuk metode penelitian dan desain penelitian.

 

Selalu ingat bahwa abstrak harus dapat menggambarkan isi keseluruhan artikel. Jangan bertele-tele menyampaikan latar belakang penelitian di abstrak karena bukan di situ tempat untuk memaparkannya. 

Jangan juga lupa mencantumkan hasil penelitian agar pembaca dapat mengetahui dengan cepat apakah artikel ini yang mereka cari.

Terakhir, agar abstrak yang dibuat tidak perlu diminta revisi, patuhi instruksi yang diminta penerbit atau institusi terkait poin-poin yang harus ada dalam abstrak dan aturan teknis lainnya, seperti jumlah maksimal kata.

Leave a Reply