Universitas Prasetiya Mulya kembali memperkuat jejaring globalnya dengan menghadirkan Edith Cowan University’s Nexus Academic Roadshow, hasil kolaborasi strategis bersama Edith Cowan University (ECU), Australia. Kegiatan ini menjadi ruang dialog antar kampus lintas negara untuk membahas tantangan yang akan dihadapi generasi muda, khususnya di era disrupsi teknologi akibat perkembangan AI sekarang ini.
Diselenggarakan di Kampus BSD Prasetiya Mulya, acara ini menghadirkan akademisi yang juga merupakan praktisi internasional dalam dua sesi utama: Masterclass bertajuk “AI & Design Thinking” serta Panel Discussion “Future Adaptability – How to be Ready.”
Empat pembicara utama yang terlibat dalam forum ini antara lain: Prof. Suku Sukunesan (School of Business and Law, ECU), Prof. Mark McMahon (School of Arts and Humanities, ECU), Dr. Sri H. Rahayu (Dekan School of Law and International Studies, Prasetiya Mulya), dan Krishnamurti Murniadi, Ph.D. (Manager Program Magister Management School of Business and Economics, Prasetiya Mulya).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran wawasan akademik, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam merespons perubahan lanskap industri yang semakin cepat. Sesaat sebelum kegiatan dimulai, prosesi penandatanganan Memorandum of Understanding antara Edith Cowan University dan Universitas Prasetiya Mulya dilaksanakan, dimana pihak ECU diwakili oleh Mr. Jake Garman sebagai Deputy Vice Chancellor (International) and Vice President, dan Dr. Hassan Wirajuda sebagai Rektor Universitas Prasetiya Mulya.
Dalam sesi masterclass, peserta diajak memahami pendekatan design thinking dalam AI. Menekankan pentingnya manusia sebagai user AI. Sehingga solusi yang dihasilkan AI tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga relevan, usable, dan benar-benar menjawab kebutuhan manusia. Pada kesempatan ini, kedua profesor ECU juga memberikan tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan menarik dari mahasiswa Prasetiya Mulya yang menghadiri sesi. Sementara itu, diskusi panel menyoroti urgensi future readiness, termasuk kemampuan adaptasi, reskilling, dan pola pikir agile di tengah ketidakpastian global.
Perwakilan Universitas Prasetiya Mulya menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dan kritis terhadap perkembangan teknologi.
“Kolaborasi internasional seperti ini menjadi salah satu kunci dalam membekali mahasiswa dengan perspektif global dan kesiapan menghadapi transformasi digital. AI bukan lagi masa depan—ia sudah menjadi realitas sehari-hari yang harus dipahami dengan kritis dan dikelola dengan bijak,” ujar Faizah Sari, Manager Kerjasama Universitas Prasetiya Mulya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Prasetiya Mulya dan Edith Cowan University menegaskan komitmen bersama dalam mendorong ekosistem pendidikan tinggi yang relevan, kolaboratif, dan berorientasi masa depan.
Acara ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama lanjutan, baik dalam bidang akademik, riset, maupun pengembangan talenta global yang siap bersaing di era AI.