Strategi sering kali gagal bukan karena dirumuskan dengan keliru, melainkan karena tidak berhasil dieksekusi secara konsisten. Di antara proses penyusunan strategi dan pelaksanaannya, terdapat satu tahapan penting yang kerap luput dari perhatian, yakni keselarasan strategi (strategy alignment). Persoalan inilah yang diteliti Andy Iskandar dalam disertasinya pada Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya.
Dalam Sidang Terbuka yang digelar pada Senin (13/7), Andy memperkenalkan Vertical-Horizontal Strategy Alignment Model, sebuah model empiris yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara formulasi dan implementasi strategi. Berangkat dari berbagai studi yang menunjukkan bahwa tingkat kegagalan implementasi strategi di berbagai organisasi mencapai sekitar 50–90 persen, penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana strategi dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang berjalan selaras di seluruh organisasi.
Melalui pendekatan multiple-case study, Andy mewawancarai 20 pimpinan dari empat perusahaan jasa keuangan, yaitu BCA Digital, Bank Sinarmas, BPR Lestari, dan FIFGROUP. Penelitian tersebut menghasilkan enam faktor utama yang menentukan keberhasilan implementasi strategi, yaitu clear strategy, strong leader, Strategic Management Office (SMO), management system, communication, dan open discussion. Keenam faktor tersebut membentuk model keselarasan strategi secara vertikal maupun horizontal agar seluruh level dan fungsi organisasi bergerak menuju tujuan yang sama.
Model ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan dalam meningkatkan keberhasilan implementasi strategi sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Promotor disertasi, Prof. Elliot Simangunsong, Ph.D., menilai penelitian Andy menghadirkan kontribusi penting bagi dunia bisnis sekaligus pengembangan ilmu strategic management.
“Andy mengangkat topik yang relatif masih jarang diteliti, yaitu kesenjangan antara formulasi dan implementasi strategi. Berbasis teori keselarasan, ia berhasil mengembangkan enam faktor baru yang dapat membantu meningkatkan keberhasilan implementasi strategi,” ujar Elliot.
Menurutnya, kekuatan penelitian tersebut terletak pada pendekatan kualitatif yang melibatkan para pelaku industri sehingga menghasilkan konsep yang tidak hanya memperkaya teori, tetapi juga relevan untuk diterapkan dalam praktik.
“Di Program Doktor Universitas Prasetiya Mulya, kami ingin lulusan tidak hanya menghasilkan teori baru, tetapi juga konsep yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan organisasi,” katanya.
Andy berharap model yang dikembangkannya dapat menjadi referensi bagi perusahaan yang masih menghadapi tantangan dalam mengeksekusi strategi.
“Saya berharap penelitian ini dapat membantu perusahaan yang masih mengalami kegagalan dalam mengeksekusi strategi. Strategi yang telah dirumuskan tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen, melainkan diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang mampu meningkatkan kinerja organisasi,” ujarnya.
Ia juga berharap temuannya dapat memperkaya kajian strategic management, khususnya pada bidang strategy alignment.
“Selama ini perhatian lebih banyak diberikan pada formulasi dan implementasi strategi. Padahal, di antara keduanya terdapat proses keselarasan yang sangat menentukan. Keselarasan harus dibangun secara vertikal maupun horizontal agar setiap level, divisi, dan fungsi organisasi bergerak menuju tujuan yang sama,” kata Andy.
Penelitian ini mengantarkan Andy Iskandar meraih gelar Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya. Lebih dari sekadar capaian akademik, riset tersebut menawarkan perspektif baru bagi dunia usaha Indonesia bahwa keberhasilan strategi tidak hanya ditentukan oleh kualitas perumusannya, tetapi juga oleh kemampuan organisasi membangun keselarasan dari ruang rapat direksi hingga pelaksana di lapangan. Dengan demikian, strategi tidak lagi berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi panduan yang hidup dalam setiap keputusan dan tindakan organisasi.