Eko Suhartanto, Ph.D., Co-Promotor I, menilai penelitian tersebut menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan entrepreneurship education.
“Penelitian Christina sangat menarik karena menyentuh aspek emosional. Aspek yang sangat humanis, sangat manusiawi. Esensi dari manusia adalah emosi. Di situlah menurut saya letak kebaruan yang luar biasa dari penelitian ini.”
Menurut Eko, pendidikan kewirausahaan selama ini lebih banyak berorientasi pada pengetahuan dan kompetensi bisnis. Padahal, keberanian mengambil risiko, kemampuan bangkit dari kegagalan, hingga keyakinan memulai usaha juga dipengaruhi oleh mekanisme emosional yang terbentuk selama proses pembelajaran.
“Ke depan, entrepreneurship education akan menjadi humanized entrepreneurship education, yaitu pendidikan kewirausahaan yang semakin menyentuh aspek-aspek kemanusiaan seperti emosi dan empati. Itulah arah visi pendidikan kewirausahaan ke depan.”
Temuan ini membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan model pendidikan kewirausahaan yang lebih komprehensif. Selain membekali mahasiswa dengan kemampuan bisnis, pembelajaran juga perlu memperkuat aspek psikologis dan emosional agar mampu melahirkan wirausaha yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi dinamika dunia usaha.
Dalam pesan penutup sidang, Prof. Dr. Andreas Budihardjo menegaskan bahwa gelar doktor merupakan awal dari tanggung jawab untuk terus menghasilkan penelitian yang mampu menjawab persoalan organisasi, dunia usaha, dan masyarakat melalui inovasi serta kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Keberhasilan Christina memperkuat kontribusi Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya dalam menghasilkan riset yang menjawab tantangan nyata di bidang pendidikan dan kewirausahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan kewirausahaan tidak hanya berfokus pada strategi bisnis, tetapi juga pada pembentukan manusia yang berani, tangguh, dan mampu menciptakan nilai melalui kewirausahaan.