Literasi Keuangan Jadi Bekal Penting Generasi Muda

Universitas Prasetiya Mulya > News > Literasi Keuangan Jadi Bekal Penting Generasi Muda

Kemudahan mengakses berbagai layanan keuangan membuat generasi muda semakin dekat dengan aktivitas finansial. Rekening digital, dompet elektronik, investasi, hingga berbagai layanan pembayaran kini dapat digunakan melalui telepon genggam dalam hitungan menit.

Akses yang semakin mudah perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami cara kerja, manfaat, dan risiko dari setiap produk keuangan. Literasi keuangan menjadi penting agar keputusan finansial tidak hanya didasarkan pada kemudahan, tren, atau dorongan sesaat.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 69,57 persen. Indeks inklusi keuangan tercatat lebih tinggi, mencapai 93,61 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa luasnya akses terhadap produk dan layanan keuangan belum selalu diikuti tingkat pemahaman yang sama. Kelompok pelajar dan mahasiswa bahkan memiliki indeks literasi keuangan sebesar 62,72 persen, masih berada di bawah rata-rata nasional, sedangkan indeks inklusi keuangannya telah mencapai 92,76 persen.

Generasi muda menghadapi semakin banyak pilihan dalam mengelola keuangan. Kebiasaan sederhana seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, menabung secara konsisten, serta memahami risiko sebelum menggunakan produk keuangan dapat menjadi bagian dari kecakapan finansial sehari-hari.

Kemampuan mengambil keputusan juga menjadi semakin penting ketika berbagai tawaran investasi, pinjaman, maupun layanan keuangan beredar melalui kanal digital. Legalitas penyedia layanan, risiko produk, biaya, serta kesesuaian dengan kemampuan finansial perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan.

OJK terus mendorong penguatan literasi keuangan generasi muda melalui berbagai program edukasi. Upaya tersebut menekankan bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu diikuti kemampuan menggunakannya secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.

Literasi keuangan pada akhirnya bukan sekadar kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Pemahaman finansial membantu generasi muda menentukan prioritas, menilai risiko, serta membangun kebiasaan yang dapat mendukung kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Sumber:
Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Badan Pusat Statistik — Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026, 11 Agustus 2026.
Otoritas Jasa Keuangan — OJK Dorong Generasi Muda Tingkatkan Literasi Keuangan untuk Capai Kesejahteraan, 9 September 2026.