Universitas Prasetiya Mulya mengajak para pemimpin sekolah dan pendidik menerapkan brain-based learning untuk membantu siswa mempertahankan fokus, memahami informasi secara mendalam, dan berpikir kritis di tengah pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.
Ajakan tersebut mengemuka dalam Executive Leadership Forum for Educators di Kampus BSD Universitas Prasetiya Mulya, Kamis (30/7). Mengusung tema Leading Future Schools Through Brain-Based Learning: How Neuroscience Improves Teaching, Learning & Student Success, forum ini mempertemukan kepala sekolah, guru, konselor, dan praktisi pendidikan untuk membahas cara menerjemahkan pemahaman tentang cara kerja otak menjadi pengalaman belajar yang relevan di era digital.
Rektor Universitas Prasetiya Mulya Dr. Hassan Wirajuda membuka forum dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Chancellor Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agustinus Purna Irawan turut mengajak para pendidik terus mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Neurolog konsultan dr. Adre Mayza, Sp.N., Sub.Sp. NRE (K) menjelaskan bahwa kemudahan memperoleh informasi belum tentu diikuti kemampuan mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna. Menurutnya, peran guru kini tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa membangun kedalaman pemahaman.
“Anak sekarang banyak belajar dari media sosial. Mereka terbiasa membaca dan melihat informasi yang singkat-singkat. Namun, untuk kedalaman informasi serta kemampuan analitis dan berpikir kritis, belum tentu mereka menguasainya,” ujar dr. Adre.
Dalam konteks tersebut, brain-based learning digunakan sebagai kerangka untuk merancang pembelajaran yang selaras dengan proses perhatian, rasa ingin tahu, pemaknaan, dan pengolahan informasi. Penerapannya diarahkan pada pengalaman belajar yang membantu siswa menjaga fokus, mengeksplorasi topik secara lebih mendalam, serta mengembangkan literasi, kemampuan analitis, dan berpikir kritis.
William Simatupang, Guru Bimbingan dan Konseling SMA Don Bosco Pondok Indah, menilai tema tersebut menjawab kebutuhan pendidik di tengah pesatnya perkembangan AI.
“Materi yang disampaikan sangat relevan, konkret, dan aplikatif. Saya berharap semakin banyak kepala sekolah, guru, psikolog, dan konselor dapat mengikuti forum seperti ini,” ujarnya.
Forum ini juga memperkenalkan Prasmul EduWealth melalui paparan Norman Tetelepta, Direktur Business Development. Inisiatif tersebut menghubungkan perencanaan finansial keluarga dengan perjalanan akademik anak sebagai bagian dari ekosistem dukungan pendidikan. Kehadirannya memperluas pembahasan forum dari proses belajar di ruang kelas menuju kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, orang tua, dan perguruan tinggi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi networking dan campus tour. Melalui forum ini, Universitas Prasetiya Mulya menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi perlu diimbangi pemahaman yang lebih baik tentang cara manusia belajar, agar siswa tidak hanya mahir mengakses informasi, tetapi juga mampu menilai, mengolah, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.