Bagi sektor pariwisata, gangguan pada konektivitas udara dapat memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar perubahan jadwal perjalanan wisatawan. Pelaku usaha seperti hotel, operator tur, dan pengelola destinasi juga perlu menyesuaikan operasional dengan perkembangan situasi.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Tourism Business Universitas Prasetiya Mulya (UPM), Redha Widharsyah, Ph.D., menilai kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan perlu menjadi bagian dari manajemen risiko di sektor pariwisata.
“Dalam manajemen risiko, kita perlu melihat seberapa besar kemungkinan suatu bencana terjadi dan seberapa besar dampaknya. Bencana alam yang pernah terjadi perlu dievaluasi secara menyeluruh agar rencana mitigasi yang lebih proaktif dapat disiapkan untuk menghadapi kemungkinan kejadian serupa di masa depan,” ujar Redha.
Redha juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan adaptif serta gaya manajemen yang cepat tanggap dalam merespons kondisi di lapangan.
“Situasi dapat berubah setiap saat sehingga konsumen memerlukan kepastian. Tentunya, keselamatan konsumen harus tetap menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Menurutnya, ketidakpastian akibat bencana dapat memengaruhi keberlangsungan perjalanan dan aktivitas wisata hingga kondisi kembali stabil.
“Saya berharap semoga keadaan lebih cepat pulih, dan aktivitas pariwisata kembali normal,” tutup Redha.