Riset Doktor Gunardi Prakosa: Kolaborasi Industri dan Transformasi Digital Jadi Kunci Daya Saing IKM Indonesia

Universitas Prasetiya Mulya > News > Riset Doktor Gunardi Prakosa: Kolaborasi Industri dan Transformasi Digital Jadi Kunci Daya Saing IKM Indonesia

Industri kecil dan menengah (IKM) Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri global. Namun, agar mampu memenuhi standar perusahaan industri besar, IKM membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan kapabilitas internal.

Riset doktoral Gunardi Prakosa, praktisi industri otomotif sekaligus mahasiswa Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya, menemukan bahwa kolaborasi antara perusahaan industri besar, pelaku usaha IKM, dan pengelola kawasan industri menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing IKM. Pemanfaatan Information & Communication Technology (ICT) sebagai bagian dari transformasi digital turut mendukung kolaborasi tersebut, terutama ketika ditopang oleh kapabilitas organisasi dan ekosistem industri yang kuat.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Sidang Terbuka Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya.

Melalui disertasinya, Gunardi mengkaji bagaimana kemampuan berbasis World-Class Manufacturing (WCM)—meliputi Pengembangan Sumber Daya Manusia (People Development), Keselamatan (Safety), Pengendalian Kualitas (Quality Control), Logistik & Layanan Pelanggan (Logistics & Customer Service), Pengendalian Biaya (Cost Deployment), dan Lingkungan (Environment)—yang selama ini diterapkan perusahaan industri besar dapat ditransmisikan kepada IKM sebagai pemicu peningkatan daya saing.

Berangkat dari kenyataan bahwa banyak IKM masih kesulitan memenuhi standar operasional industri global, Gunardi mengembangkan sebuah model yang menempatkan kawasan industri sebagai jalur transmisi antara kemampuan manufaktur dan dukungan ekosistem industri.

Dalam model tersebut, kawasan industri tidak lagi sekadar menjadi lokasi kegiatan manufaktur, tetapi berkembang sebagai ekosistem kolaborasi, pembelajaran, dan inovasi yang memperkuat daya saing industri. Melalui jalinan produktif antarpelaku bisnis, kawasan industri mendorong transfer pengetahuan, standardisasi proses, pembelajaran bersama, integrasi rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (ICT).

Dukungan platform digital semakin memperkuat konektivitas tersebut dengan mempertemukan kebutuhan, memfasilitasi kolaborasi, dan mempercepat proses bisnis.

“IKM Indonesia jumlahnya sangat besar, tetapi tantangan utamanya adalah bagaimana mereka bisa masuk ke dalam rantai pasok industri global. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan daya saing IKM memerlukan sinergi antara penerapan kemampuan berbasis manufaktur kelas dunia, penguatan kemitraan bisnis dengan perusahaan industri besar, optimalisasi fungsi kawasan industri, dan pengembangan kapabilitas transformasi digital dalam kerangka kebijakan industri nasional yang terintegrasi,” ujar Gunardi Prakosa.

Penelitian tersebut melibatkan 830 responden yang terdiri atas perusahaan industri besar, pelaku usaha IKM, dan pengelola kawasan industri. Pendekatan multi-aktor ini dipilih untuk menangkap perspektif seluruh pihak dalam ekosistem manufaktur sehingga menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi daya saing IKM.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kemampuan berbasis World-Class Manufacturing berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja bisnis IKM. Logistik & layanan pelanggan merupakan kemampuan yang paling berpengaruh, sementara kapabilitas pengendalian kualitas masih perlu ditingkatkan. Pengaruh tersebut tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui peran kawasan industri sebagai mekanisme mediasi yang mendorong penerapan kemampuan dan penguatan ekosistem bisnis.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa adopsi ICT belum terbukti memperkuat hubungan antara fungsi kawasan industri dan peningkatan kinerja bisnis IKM. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital perlu berpusat pada peningkatan kapabilitas organisasi, bukan sekadar peningkatan penggunaan teknologi.

Dengan demikian, pemanfaatan ICT akan lebih optimal apabila dibangun di atas ekosistem kolaborasi yang kuat antara perusahaan industri besar, kawasan industri, dan IKM.

Promotor disertasi, Prof. Dr. Djisman Simandjuntak, menilai penelitian tersebut memberikan kontribusi strategis bagi pengembangan sektor manufaktur Indonesia. Menurutnya, peningkatan daya saing IKM membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan perusahaan industri besar, kawasan industri, dan IKM dalam hubungan yang saling menguntungkan.

“Kawasan industri tidak boleh hanya menjadi lokasi produksi. Kawasan industri harus menjadi ruang belajar, transfer praktik terbaik, dan penghubung antara perusahaan industri besar dengan IKM agar daya saing industri nasional meningkat,” ujar Prof. Djisman.

Selain memperkaya kajian akademik mengenai pengembangan industri manufaktur, penelitian ini juga menawarkan rekomendasi praktis bagi Pemerintah, pengelola kawasan industri, perusahaan industri besar, dan pelaku usaha IKM.

Gunardi Prakosa menilai bahwa Pemerintah sebaiknya bertransformasi dari pemberi bantuan menjadi arsitek ekosistem IKM yang membangun kapabilitas dan kesiapan IKM memasuki rantai pasok industri global. Keberhasilan kebijakan IKM tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi dari lahirnya IKM yang kompetitif, tersertifikasi, dan mampu menjadi pemasok industri secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, kawasan industri berperan menghubungkan kemampuan manufaktur dengan dukungan ekosistem industri melalui fasilitas, layanan, aksesibilitas, serta lingkungan usaha. Perusahaan industri besar didorong membuka ruang transfer praktik terbaik, standar, pembelajaran, dan integrasi rantai pasok bagi IKM. Sementara itu, IKM perlu terus meningkatkan kualitas, efisiensi, produktivitas, dan daya saing agar mampu memenuhi standar industri global.

Apabila kolaborasi tersebut berjalan secara konsisten, daya tarik dan nilai tambah kawasan industri akan semakin kuat. Temuan riset ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja bisnis IKM merupakan hasil sinergi antara keunggulan internal perusahaan, dukungan ekosistem industri, dan transformasi digital yang berbasis kapabilitas—tiga elemen penting dalam membangun IKM Indonesia yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing berkelanjutan.