Sembuhkan Luka Sejarah, Rektor Universitas Prasetiya Mulya Raih Penghargaan Order of Timor Leste dari Presiden Ramos Horta

Universitas Prasetiya Mulya > Rektorat > Sembuhkan Luka Sejarah, Rektor Universitas Prasetiya Mulya Raih Penghargaan Order of Timor Leste dari Presiden Ramos Horta

Kabar membanggakan datang untuk Universitas Prasetiya Mulya. Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hassan Wirajuda, baru saja menerima penghargaan tertinggi Order of Timor Leste langsung dari Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, di Istana Kepresidenan Dili.

Bagi seluruh civitas akademika Universitas Prasetiya Mulya, pencapaian ini merupakan bukti nyata bagaimana nilai-nilai CHAIN LEAMICA seputar kepemimpinan dan kemanusiaan yang selama ini diajarkan di kampus, benar-benar dipraktikkan di dunia nyata. Penghargaan bintang kehormatan ini juga diberikan kepada mantan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Marty Natalegawa.

Presiden Ramos Horta menyampaikan bahwa Hassan Wirajuda memiliki peran yang sangat krusial dalam menyembuhkan luka politik masa lalu antara Indonesia dan Timor Leste. Melalui inisiatif bersama Ramos Horta, Hassan membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan (Commission of Truth and Friendship/CTF). Hassan pun berhasil membuktikan ke dunia bahwa keadilan dan perdamaian bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan. Sementara itu, Marty Natalegawa diganjar penghargaan atas jasanya yang konsisten membuka jalan bagi Timor Leste untuk bergabung dalam keluarga besar ASEAN.

 

Dari Konflik Menuju “Warm Peace”

Pada kesempatan ini, Hassan juga diundang untuk menyampaikan pemikirannya dalam forum bergengsi Presidential Lecture Series di tempat yang sama. Di hadapan para pemimpin Timor Leste, Hassan membawakan kuliah umum bertajuk “Reconciliation and The Ultimate Goal of Peaceful Resolution of Conflict”.

Ia membagikan cerita tentang bagaimana kedua negara berhasil keluar dari fase kelam sejarah. Hassan menyebut hubungan Indonesia dan Timor Leste saat ini sebagai contoh yang sangat langka di dunia. Berbeda dengan konflik negara lain yang perdamaiannya cenderung “dingin” atau bahkan masih bergejolak. Indonesia. – Timor Leste berhasil membangun kedekatan yang tulus sebagai sahabat dan mitra strategis.

“The true goal is the creation of warm peace – a relationship characterized by trust, friendship, cooperation, and shared prosperity,” ujar Hassan.

Uniknya, istilah “Persahabatan” (friendship) diusulkan langsung oleh tokoh Timor Leste, Ramos Horta dan Xanana Gusmao. “Bagi Horta dan Xanana proses rekonsiliasi sudah selesai, dan sekaranglah saatnya kedua bangsa fokus berjalan bersama menatap masa depan”, tutur Hassan.

 

Menghadapi Sejarah dengan Jujur 

Sebagai akademisi sekaligus praktisi senior di panggung diplomasi internasional, Hassan menekankan bahwa berdamai bukan berarti kita seolah lupa dengan apa yang pernah terjadi.

“Reconciliation is not about forgetting history. It is about confronting history honestly while refusing to remain imprisoned by it,” jelasnya.

Semangat inilah yang kemudian melahirkan laporan bersejarah Per Memoriam ad Spem (Melalui Memori Menuju Harapan) pada tahun 2008, sebuah momentum di mana kedua negara berani melihat masa lalu demi membentuk masa depan bilateral lebih baik.

Kini, langkah berani dari diplomasi tersebut bisa dirasakan bersama. Hubungan kedua negara menjadi salah satu model rekonsiliasi paling sukses di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia bahkan menjadi salah satu mitra ekonomi terbesar bagi Timor Leste, membuka banyak ruang kolaborasi mulai dari perdagangan hingga sektor pendidikan. Sekitar 20.000 mahasiswa Timor Leste kini belajar di berbagai universitas di Indonesia.

Di akhir kuliah umumnya, Rektor Universitas Prasetiya Mulya ini menutup dengan pesan singkat yang menyentuh hati para undangan yang hadir:

“Sejarah pernah sekali memecah kita, Indonesia dan Timor Leste. Namun rekonsiliasi telah membawa kita kembali bersama.”

Prestasi luar biasa yang diraih oleh Rektor Universitas Prasetiya Mulya ini menjadi inspirasi besar bagi kita semua segenap sivitas akademika untuk terus berpikir global, bertindak humanis, dan membawa dampak positif bagi kemanusiaan dan dunia. Selamat, Pak Rektor!

 

Tulisan direwrite oleh Galuh Adityas Marini dari berita  terkait yang terbit di Sinar Harapan pada tanggal 25 Mei 2026.