Alumni Prasmul Kembangkan Agribisnis Keluarga, Wujudkan Kepemimpinan Berdampak Sosial

Universitas Prasetiya Mulya > News > Alumni Prasmul Kembangkan Agribisnis Keluarga, Wujudkan Kepemimpinan Berdampak Sosial

Di tengah tren lulusan muda yang memilih berkarier di kota besar atau industri digital, Timothy Antonius justru kembali ke daerah untuk mengembangkan agribisnis keluarga. Alumni Program S1 Bisnis Universitas Prasetiya Mulya angkatan 2021 yang lulus pada 2025 ini kini mengelola berbagai unit usaha peternakan dan perkebunan keluarga yang tersebar di Jawa Barat dan Sumatra.

Saat ini, Timothy menjabat sebagai Direktur PT CIFA Indonesia dan mengelola berbagai unit usaha keluarga, mulai dari peternakan sapi di Sumatra, perkebunan jeruk Medan, hingga perkebunan manggis dan durian di Subang. Meski memiliki bekal pendidikan bisnis, ia mengakui bahwa dunia agribisnis menghadirkan tantangan yang tidak dapat dipelajari hanya melalui teori.

Ketika lulus saya memahami strategi dan manajemen bisnis, tetapi agribisnis mengajarkan banyak hal baru. Sebagian besar saya pelajari langsung di lapangan melalui proses learning by doing,” ujarnya.

Menurut Timothy, tantangan terbesar bukan hanya persoalan teknis budidaya, melainkan membangun kepercayaan masyarakat. Sebagian besar pekerja yang terlibat merupakan warga desa dengan usia yang jauh lebih senior darinya. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan teori.

“Kalau tidak bisa membaur dengan masyarakat, kita tidak akan didengar. Pemimpin harus hadir, bekerja bersama masyarakat, dan memahami kondisi mereka,” katanya.

Menurut Timothy, pendekatan tersebut selaras dengan pengalaman belajarnya di Universitas Prasetiya Mulya yang menanamkan nilai kolaborasi, integritas, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam mengembangkan usahanya, Timothy menggandeng sahabatnya sejak SMA, Jose, untuk membangun perkebunan pisang premium seluas satu hektare di Subang. Perkebunan tersebut membudidayakan berbagai varietas pisang premium, antara lain Cavendish, Barangan Merah, Kepok Tanjung, dan Raja Bulu. Keduanya memiliki pembagian peran yang jelas. Timothy berfokus pada operasional dan budidaya, sementara Jose mengembangkan pemasaran serta strategi media sosial.

Di balik pengembangan bisnis tersebut, Timothy memastikan keberadaan usaha yang dijalankan turut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Warga desa dilibatkan dalam berbagai aktivitas perkebunan, mulai dari pemeliharaan tanaman hingga pekerjaan musiman seperti pembukaan lahan dan penanaman.

Ropi, salah satu warga yang bekerja di area perkebunan, mengaku keberadaan usaha tersebut memberikan tambahan penghasilan sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat desa.

“Dulu pekerjaan tidak selalu ada setiap hari. Sekarang kami bisa ikut bekerja di kebun dan mendapatkan penghasilan tambahan. Kehadiran perkebunan ini membuat masyarakat merasa dilibatkan dan memperoleh manfaat secara langsung,” ujarnya.

Saat ini, perkebunan manggis yang dikelola Timothy menghasilkan sekitar 1–2 ton setiap musim panen, sedangkan perkebunan durian mampu memproduksi sekitar 3.000 buah per musim. Produk-produk tersebut dipasarkan melalui penjualan langsung kepada konsumen maupun mitra bisnis.

Bagi Timothy, keberhasilan agribisnis tidak hanya diukur dari hasil panen atau pertumbuhan usaha.

“Ketika bisnis berkembang dan masyarakat sekitar ikut merasakan manfaatnya, di situlah keberhasilan yang sesungguhnya,” tuturnya.

Kisah Timothy menunjukkan bahwa pendidikan bisnis tidak hanya melahirkan profesional yang kompeten, tetapi juga pemimpin yang mampu menciptakan dampak sosial. Melalui perpaduan pengetahuan bisnis, keberanian terjun langsung ke lapangan, dan komitmen untuk memberdayakan masyarakat, ia membuktikan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dibangun di ruang rapat, tetapi juga tumbuh bersama komunitas yang ikut berkembang.