Sebagai bagian dari penguatan collaborative learning ecosystem, Universitas Prasetiya Mulya juga terus memperluas corporate partnership dengan berbagai perusahaan nasional dan global. Sejumlah perusahaan besar yang telah menjadi mitra industri Universitas Prasetiya Mulya di antaranya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPM), PT Bank Digital BCA (BCA Digital), PT Astra International Tbk, Estee Lauder Companies Beauty Indonesia, Orang Tua Group (OT), BDO Indonesia, dan banyak lainnya. Kolaborasi ini menjadi salah satu pilar Prasmul dalam membangun negeri melalui sinergi antara kampus dan dunia usaha.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan kurikulum berbasis industri, program magang mahasiswa, riset terapan, kuliah praktisi, proses rekrutmen lulusan, hingga berbagai proyek kolaboratif yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik, tetapi juga pemahaman praktis dan jejaring profesional yang diperlukan untuk menjadi penggerak pembangunan di berbagai sektor.
Prof. Stella Christie menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi global yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, AI bukan sekadar perkembangan teknologi, tetapi perubahan paradigma dalam cara manusia belajar, bekerja, dan berinovasi. Perguruan tinggi harus menjadi ruang yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan keberanian untuk terus beradaptasi agar mahasiswa Indonesia mampu bersaing secara global dan tetap berakar pada kontribusi nyata bagi bangsa.
Sementara itu, Dr. Muhamad Yopan menilai dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan talenta digital yang mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi di berbagai sektor industri. “Pertumbuhan AI berlangsung sangat cepat dan akan memengaruhi hampir seluruh sektor pekerjaan. Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun budaya belajar yang agile, kolaboratif, dan dekat dengan kebutuhan industri agar lulusan mampu menjadi problem solver di era digital dan membawa dampak positif bagi pembangunan ekonomi nasional,” ungkap Dr. Muhamad Yopan.
Di sisi lain, Dr. Agung Alfansyah menegaskan bahwa kolaborasi akan menjadi elemen penting dalam pembelajaran masa depan. “Pembelajaran tidak lagi hanya berlangsung satu arah di ruang kelas. Ke depan, mahasiswa perlu terbiasa bekerja lintas bidang, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan solusi nyata bagi masyarakat. Dengan cara itu, setiap inovasi yang lahir dari kampus dapat menjadi bagian dari upaya Prasmul membangun negeri,” jelas Dr. Agung Alfansyah.
Melalui Prasmul New Look, Universitas Prasetiya Mulya menegaskan posisinya sebagai kampus future-ready yang menghubungkan pendidikan, industri, teknologi, dan inovasi untuk menyiapkan talenta Indonesia yang adaptif di era AI. Transformasi ini sejalan dengan semangat “Prasmul membangun negeri”, menghadirkan pendidikan yang relevan, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi kemajuan Indonesia.