Selain itu, sambutan juga diberikan oleh Bapak Mulyanto Y.S., S.E., M.Trap, Kepala Subdirektorat Tata Kelola Infrastruktur, Direktorat Fasilitasi Infrastruktur, Kementerian Ekonomi Kreatif (EFKRAF) yang menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Universitas Prasetiya Mulya, serta para pemangku kepentingan desa yang terlibat dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan sektor yang bertumpu pada penciptaan nilai tambah dari pengetahuan, budaya, dan teknologi, yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari penggunaan media sosial, konsumsi konten digital, hingga produk kuliner dan hiburan. Oleh karena itu, ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor prioritas nasional yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat global.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa desa memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif, terutama pada subsektor seperti kuliner, kriya, dan fesyen yang banyak tumbuh dari sumber daya lokal. Pemerintah, terus mendorong penguatan desa kreatif melalui berbagai strategi, mulai dari peningkatan kapasitas SDM, penguatan infrastruktur, perlindungan kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya kejujuran dalam memetakan potensi desa serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai kunci keberhasilan program. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, desa diharapkan mampu berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berdampak nyata.
Dalam sesi utama, Bapak Iwan Kahfi, M.E.M, M.B.A, Faculty Member dari prodi Manajemen – SBE menyampaikan materi berjudul Perancangan Social Business Model Canva (SBMC) untuk Program Pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK 2026) Kabupaten Tangerang. SBMC merupakan sebuah kerangka kerja yang membantu peserta merancang usaha dengan mempertimbangkan dua aspek sekaligus: keberlanjutan ekonomi dan dampak sosial.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan usaha desa tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki. Banyak usaha gagal bukan karena kekurangan modal, melainkan karena tidak memiliki model bisnis yang jelas. Menurutnya, pendekatan bisnis sosial mendorong pelaku usaha untuk memikirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bisnis sosial tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada upaya membangun usaha yang mampu menghasilkan pendapatan sekaligus menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memetakan berbagai aspek usaha secara lebih sistematis, mulai dari potensi sumber daya, kelompok penerima manfaat, hingga strategi pemasaran dan keberlanjutan usaha.
Setelah memahami konsep dasar, peserta dibagi ke dalam kelompok diskusi untuk merancang model usaha berbasis potensi desa masing-masing. Peserta diminta untuk mengisi blok kanvas dari SBMC sesuai dengan arahan dari pak Iwan, dibantu oleh tim dosen pengabdi sebagai fasilitator kelompok desa.