Menggali Potensi Desa melalui Model Bisnis Sosial

Universitas Prasetiya Mulya > Penelitian > Menggali Potensi Desa melalui Model Bisnis Sosial

Universitas Prasetiya Mulya bersama pemerintah daerah Kabupaten Tangerang melalui BAPPEDA mengadakan kegiatan pelatihan kewirausahaan sosial yang mempertemukan aparatur desa, pelaku UMKM, serta komunitas lokal untuk menggali potensi ekonomi desa melalui pendekatan Social Business Model Canvas, yang menjadi bagian dari program pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif 2026 di Kabupaten Tangerang. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu 15 April 2026 di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus BSD ini terselenggara atas kerjasama Tim LPPM dan PPUK. Kegiatan diikuti oleh sekitar delapan puluhan peserta yang terdiri atas Faculty Member (pengabdi) dan perangkat desa yang berasal dari 12 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

Forum ini menjadi ruang belajar bersama bagi desa-desa peserta untuk merancang model usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

Dalam sambutan pembukaan, Dr. Stevanus Wisnu Wijaya selaku Co-Provost 2 menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat desa dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Ia menyampaikan bahwa desa tidak seharusnya hanya dipandang sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai ruang inovasi yang mampu melahirkan berbagai model usaha berbasis potensi lokal. Selain itu, ia juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan forum ini sebagai ruang belajar bersama, dengan harapan desa dapat merancang model usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selain itu, sambutan juga diberikan oleh Bapak Mulyanto Y.S., S.E., M.Trap, Kepala Subdirektorat Tata Kelola Infrastruktur, Direktorat Fasilitasi Infrastruktur, Kementerian Ekonomi Kreatif (EFKRAF) yang menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Universitas Prasetiya Mulya, serta para pemangku kepentingan desa yang terlibat dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan sektor yang bertumpu pada penciptaan nilai tambah dari pengetahuan, budaya, dan teknologi, yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari penggunaan media sosial, konsumsi konten digital, hingga produk kuliner dan hiburan. Oleh karena itu, ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor prioritas nasional yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat global.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa desa memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif, terutama pada subsektor seperti kuliner, kriya, dan fesyen yang banyak tumbuh dari sumber daya lokal. Pemerintah, terus mendorong penguatan desa kreatif melalui berbagai strategi, mulai dari peningkatan kapasitas SDM, penguatan infrastruktur, perlindungan kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya kejujuran dalam memetakan potensi desa serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai kunci keberhasilan program. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, desa diharapkan mampu berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berdampak nyata.

Dalam sesi utama, Bapak Iwan Kahfi, M.E.M, M.B.A, Faculty Member dari prodi Manajemen – SBE menyampaikan materi berjudul Perancangan Social Business Model Canva (SBMC) untuk Program Pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK 2026) Kabupaten Tangerang. SBMC merupakan sebuah kerangka kerja yang membantu peserta merancang usaha dengan mempertimbangkan dua aspek sekaligus: keberlanjutan ekonomi dan dampak sosial.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan usaha desa tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki. Banyak usaha gagal bukan karena kekurangan modal, melainkan karena tidak memiliki model bisnis yang jelas. Menurutnya, pendekatan bisnis sosial mendorong pelaku usaha untuk memikirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bisnis sosial tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada upaya membangun usaha yang mampu menghasilkan pendapatan sekaligus menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memetakan berbagai aspek usaha secara lebih sistematis, mulai dari potensi sumber daya, kelompok penerima manfaat, hingga strategi pemasaran dan keberlanjutan usaha.

Setelah memahami konsep dasar, peserta dibagi ke dalam kelompok diskusi untuk merancang model usaha berbasis potensi desa masing-masing. Peserta diminta untuk mengisi blok kanvas dari SBMC sesuai dengan arahan dari pak Iwan, dibantu oleh tim dosen pengabdi sebagai fasilitator kelompok desa.

Dalam sesi presentasi hasil diskusi, sejumlah desa menampilkan gagasan bisnis yang berangkat dari potensi lokal mereka.

Perwakilan 3 Desa menyampaikan hasil diskusi

Perwakilan Desa Cukanggalih memaparkan gagasan pengembangan kampung sinematografi yang memanfaatkan minat dan keterampilan anak muda di bidang fotografi dan videografi. Komunitas kreatif desa tersebut berencana mengembangkan layanan produksi konten digital, dokumentasi kegiatan, hingga promosi produk lokal melalui media visual. Mereka menyampaikan bahwa media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan potensinya dapat dimanfaatkan untuk membangun ekonomi kreatif di desa. Melalui inisiatif ini, desa berharap dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Berbeda dengan Cukanggalih, Desa Gandaria mengangkat potensi sektor perikanan, khususnya budidaya ikan lele yang menjadi mata pencaharian utama warga. Saat ini terdapat ratusan pembudidaya dengan ratusan kolam lele yang setiap tahunnya menghasilkan ratusan ton produksi. Perwakilan desa menyampaikan bahwa selama ini sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah, sehingga ke depan mereka berupaya meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan produk olahan seperti keripik, nugget, dan kerupuk lele. Program ini juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga dalam proses produksi sehingga diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.

Sementara itu, Desa Saga menampilkan gagasan pengembangan Batik Balaraja sebagai bagian dari identitas budaya lokal sekaligus peluang usaha kreatif. Gagasan ini berangkat dari riset sejarah lokal yang kemudian diterjemahkan ke dalam motif batik khas daerah. Perwakilan desa menyampaikan bahwa Batik Balaraja tidak hanya dipandang sebagai produk ekonomi, tetapi juga sebagai sarana untuk menceritakan sejarah dan identitas daerah kepada generasi berikutnya. Selain memproduksi batik, desa juga berencana mengembangkan kawasan ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat dalam proses produksi, desain, hingga pemasaran.

Ibu Dewi dari BAPPEDA menyanpaikan Kata Penutup Kegiatan

Sebagai penutup kegiatan, Ibu Dewi Amalia, S.E., M.A.P., selaku Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Kabupaten Tangerang, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia berharap ide-ide yang dihasilkan dari pelatihan ini dapat terus dikembangkan menjadi program nyata di desa masing-masing.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai perancangan model bisnis sosial, tetapi juga didorong untuk merumuskan langkah konkret dalam mengembangkan usaha desa berbasis potensi lokal. Gagasan-gagasan yang muncul dari setiap desa diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi program nyata yang memberikan dampak ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.

Lebih jauh, kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat sebagai fondasi dalam membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong inovasi serta keberlanjutan pengembangan ekonomi desa.